Rabu, 22 November 2017

Jagat Raya Menurut al-Qur'an

Allah SWT menciptakan manusia sudah dilengkapi dengan Petunjuk-Nya, sehingga manusia tidakperlu repot-repot mencari atau menyusun Hukum dalam menjalani hidupnya, bahkan tinggal meneliti dan mempelajari Petunjuk Allah untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.Bahkan Hukum Allah itu menerangkan hal-hal yang berlaku sampai nanti kehidupan di Akhirat.
Dalam era globalisasi dan informasi sudah saatnya bagi umat Islam untuk berpikir kritis dan dinamis demi kemajuan Islam. Hal yang perlu dipahami bahwa sesungguhnya Al Qur’an bukanhanya menerangkan ibadah saja, tetapi lebih jauh dia juga menerangkan hal-hal yang berkaitandengan ilmu tingkat tinggi yang justru lebih lengkap dan sempurna.Akan tetapi selama ini yang dipelajari para ilmuwan Muslim baru sebatas hal yang berkaitandengan ibadah, dikiranya Al Qur’an tidak mampu menerangkan hal-hal berkaitan dengan segalayang ada di semesta. Padahal kalau Al Qur’an dipahami dengan sungguh-sungguh maka akanmuncul Sarjana-sarjana Al Qur’an dari berbagai disiplin ilmu yang berkualitas tinggi dan handal.Dengan begitu Ilmu Pengetahuan akan maju pesat sejalan dengan tingkat kemampuan dalampemahaman Al Qur’an oleh para pemeluk Islam atau para Ilmuwan itu sendiri.
Misalnya tentang adanya masyarakat manusia di Planet lain di luar Bumi ini, orang-orang barat begitu serius mengadakan penelitian dengan biaya yang sangat mahal dan mereka yakin bahwa diluar Bumi ini pasti ada kehidupan atau ada makhluk hidup. Padahal sebenarnya jauh-jauh sebelumnya Al Qur’an telah memberikan informasi yang menunjukkan bahwa di Planet selain Bumi ini juga telah berkembang masyarakat manusia seperti halnya di Bumi ini. Sementara para ilmuwan muslim hanya bertindak selaku penonton dan menunggu hasil penelitian orang Barat.
Sebenarnya sejak 15 abad yang lalu Al Qur’an telah menerangkan berbagai persoalan yang adadi jagad raya ini, cuma masalahnya sistem pendidikan yang selama ini diajarkan hanyalah berupa hafalan-hafalan sehingga pada umumnya anak didik kita banyak yang tidak bisamemahami tentang sesuatu. Seringkali orang dipaksa untuk percaya begitu saja secara taklidbuta walaupun kadang-kadang keterangan yang disampaikan tidak sejalan dengan pemikiransecara wajar. Ironisnya para Sarjana kitapun masih banyak yang kurang kritis dan teliti, bahkanmereka juga mengikuti pemahaman ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu, sehinggaposisi kita sering selalu ketinggalan, terutama dalam hal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Itulah fenomena yang terjadi dalam masyarakat kita, terutama masyarakat Islam sendiri karena kurangnya informasi tentang Al Qur’an, tetapi anehnya kalau diberi tahu tentang Al Qur’an juga belum tentu mau menerima atau paling tidak merupakan bahan kajian, tetapi itulah faktanya. Sementara bagi orang-orang yang memang benar-benar beriman kepada penjelasan Allah yang disampaikan oleh Nabi tentu menanyakan kepada Nabi. Akan tetapi karena sekarang Nabi sudah tiada, maka kita harus menanyakan kepada yang mengutus Nabi yaitu Allah dimana Allah telah menjelaskan semua itu melalui Wahyu dalam Al Qur’an.
Lalu, benarkah ada kehidupan manusia di planet lain?
Ada tiga hal yang perlu diperhatikan :




1. Pengertian tentang Dunia.
Selama ini orang menganggap seolah-olah yang dimaksud dunia ini hanyalah “BUMI” ini saja, padahal dunia itu begitu luasnya, sedangkan Bumi ini hanyalah merupakan debu yang sangat kecil jika dibandingkan dengan dunia. Dunia adalah semesta raya ini dan bukannya hanya Bumi saja, karena itu kalau kita sering mendengar bahwa dunia ini nantinya akan dihancurkan pada hari kehancuran total dengan istilah “Yaumus Sa’ah”, maka yang dihancurkan bukan hanya Bumi ini, tetapi seluruh jagad raya yang ada di semesta ini. Semesta raya ini terdiri dari milyaran Bintang, setiap Bintang di angkasa merupakan satu solar sistem (Tata Surya). Oleh karena itu hendaklah kita merubah cara berpikir dalam memahami suatu persoalan sehingga pengertian itu bisa diterima oleh pikiran secara wajar dan sejalan dengan ilmu pengetahuan.

2. Pengertian tentang Sama’/Samawat
Memang benar bahwa berdasarkan arti bahasa bahwa Samawat adalah bentuk jamak dari Sama’ yang pada umumnya diartikan “langit” atau “angkasa”. Namun sejalan dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, maka sama’ belum tentu selalu berarti langit. Sedangkan yang dimaksud langit adalah awang-awang kosong begitu luasnya. Tiap-tiap planet memiliki langit, sedangkan planet-planet itu tak terhitung jumlahnya di semesta raya ini. Di dalam wilayah Tata Surya kita saja ada 10 planet dan baru 9 yang diketemukan dan masingmasingnya memiliki langit.


3. Pengertian tentang Dabbah


Kalau diperhatikan dengan teliti bahwa sesungguhnya dabbah itu bukan hanya binatang melata, tetapi termasuk di dalamnya binatang yang berkaki bahkan termasuk juga manusia. Untuk mendapatkan pengertian dabbah yang sebenarnya, perlu dihubungkan beberapa ayat dalam Al Qur’an yang mengandung dabbah, maka dia akan saling menerangkan tentang pengertian dabbah itu sendiri secara jelas. Kalau pemahaman tentang sesuatu hanya dengan satu ayat terpisah, maka pengertiannya tidak bisa utuh, karena jarang Al Qur’an menerangkan sesuatu hanya dengan satu ayat yang berdiri sendiri, tetapi harus dihubungkan dengan ayat lain yang berhubungan.


Memang ada juga ayat yang sudah jelas tanpa penjelasan misalnya ayat-ayat muhkamat, namun biasanya hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan atau ayat mutasabihat harus merangkaikan beberapa ayat yang saling menerangkan. Sebagai bahan kajian tentang dabbah maka perhatikan petunjuk Allah berikut:

Surat As-Syuuro (42) ayat 29 oleh Departemen Agama Pelita III/81-82:




Dalam Ayat tersebut yang diterjemahkan makhluk-makhluk yang melata adalah Ayat aslinya berbunyi dabbah. Sementara yang lainnya diartikan binatang melata.


Perhatikan Terjemahan pada Ayat yang sama yaitu:
Prof. H. Mahmud Yunus, penerbit PT. Al MaArif Bandung:
Diantara ayat-ayat (tanda-tanda) Allah, ialah kejadian langit dan Bumi dan apa-apa yang bertebaran pada keduanya diantara binatang-binatang (apa-apa yang melata di muka Bumi). DIA maha kuasa menghimpunkan mereka bila dikehendaki-Nya.

Jadi,  istilah dabbah diartikan binatang melata. Tapi perlu diketahui bahwa kalau binatang melata bisa hidup di Samawat itu, maka manusiapun seharusnya juga bisa hidup.

Berdasarkan pengkajian sebaiknya Ayat tersebut berarti:
Dan dari Ayat-ayatNya ialah penciptaan Samawat (planet-planet) dan Bumi, serta yang DIA kembang biakkan pada keduanya (Samawat dan Bumi) dari dabbah (makhluk berjiwa) dan DIA atas pengumpulan ketika DIA kehendaki adalah menentukan.

Kalau orang mau memperhatikan dengan teliti, maka sesungguhnya dabbah itu bukan hanya binatang melata saja, tetapi termasuk binatang lain yang tidak melata yaitu yang berkaki termasuk di dalamnya adalah manusia. Oleh karena itu yang ditebarkan atau dikembangkanbiakkan di Samawat (planet-planet) dan di Bumi ini terdiri makhluk yang berjiwa termasuk di dalamnya manusia itu sendiri. Dengan demikian maka jelas bahwa di planet-planet itu pun telah berkembang masyarakat manusia seperti halnya yang ada di Bumi ini. Berikut ini Ayat yang menjelaskan tentang pengertian dabbah.

Surat An-Nuur (24) ayat 45. Artinya :




Surat Al-Anfal (8) ayat 22 :

Surat Al-Anfal (8) ayat 55 :



Kalau kita perhatikan surat An-Nuur (24) ayat 45, cukup jelas dan tegas bahwa diantara dabbah itu ada yang berjalan atas perutnya (ular, buaya, cecak, kadal dan lain-lain), dan diantara dabbah itu juga ada yang berjalan atas dua kaki (ayam, bebek, MANUSIA dan lain-lain) dan ada pula yang berjalan dengan empat kaki (kerbau, sapi, kambing, unta dan lain-lain).


Jadi jelaslah bahwa yang dimaksud dengan dabbah bukanlah hanya binatang melata, tetapi termasuk manusia dan binatang berkaki lainnya.

Pada Surat Al-Anfal (8) ayat 22 dan 55, menyatakan bahwa sejahat-jahat dabbah menurut pandangan Allah adalah orang-orang pekak, kafir, tidak berpikir dan tidak beriman. Jelas yang dimaksud disini adalah manusia, bukan binatang melata, karena memang semua binatang melata tidak bisa berpikir apalagi beriman. Inilah yang dimaksud dengan pemahaman tentang suatu istilah dalam ayat Al Qur’an. Kalau dalam memahami istilah dalam ayat kurang tepatapalagi kalau salah, maka arti dan kedengarannya pun janggal, tidak ratio, tidak bisa dimengerti oleh semua orang, akibatnya sasaran yang dimaksudkan pun tidak tepat.

Jelaslah kiranya bahwa yang dimaksud dabbah adalah makhluk berjiwa (makhluk bernyawa) termasuk MANUSIA. Dengan begitu didapatkan kunci dan petunjuk yang diperoleh dari pengertian beberapa ayat yang saling menjelaskan bahwa di planet lain selain Bumi ini juga bermasyarakat manusia dan juga berkembang biak berbagai binatang termasuk juga binatang melata tadi.

Meskipun hingga saat ini dengan ilmu pengetahuan yang ada belum diketahui dengan pasti tentang keberadaan kehidupan di planet lain, namun penjelasan dari ayat-ayat al-Qur’an diatas sangat logis dan bisa diterima. Dan menurut saya, sebagai seseorang yang tertarik dengan masalah UFO dan Alien, pembahasan mengenai Dabbah diatas menjadi titik terang bahwa fenomena Alien adalah benar-benar nyata.

dikotomi (pembagian dua kutub) antara agama dan sains, antara persoalan dunia dan akhirat. Ketika membicarakan sains seolah agama tidak berhak ikut campur. Untuk agama selain Islam, mungkin saja begitu. Namun tidak berlaku untuk Islam. Karena Islam tidak mengenal dikotomi sains dan agama, dunia dan akhirat.
Betapa banyak ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang sains, bahkan sebagian diantaranya baru diketahui dan dipahami oleh ilmuwan pada abad ke-20.  Di antaranya :
“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak juga beriman?” (Q.S. Al-Anbiya [21] : 30)
“Dan Allah telah menciptakan semua jenis dabbah (makhluk hidup) dari air” (Q.S. An-Nuur [24] : 45)
Dari sini bisa dipahami jika sebuah planet memiliki cadangan air di dalam tanahnya atau memiliki gas yang memungkinkan terbentuknya air dan oksigen maka planet tersebut bisa mendukung kehidupan. Salah satu planet tetangga yang diketahui memilik kemungkinan ini adalah Mars.
Di dalam lapisan kriosfer mars terdapat deposit es yang terbuat dari air yang membeku. Jika es di ini dicairkan, akan bisa merendam seluruh permukaan mars setinggi 11 meter. Hal ini berarti cadangan air di planet Mars sebenarnya sangat melimpah hanya saja membeku menjadi es.


“Lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis dabbah (makhluk hidup)” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 162)
Ilmuwan juga mensinyalir bahwa di masa lalu pernah ada kehidupan mikroorganisme di mars. Kecurigaan ini berdasarkan banyaknya kanduangan gas metana (CH4) dalam atmosfir Mars. Dimana gas metana adalah gas yang dihasilkan dari mikroorganisme. Walaupun demikian, gas metana juga bisa dihasilkan dari oksidasi besi. Sebagaimana diketahui permukaan Mars banyak mengandung Besi Oksida (Fe3-O2).
Dibandingkan dengan bumi yang memiliki 21% oksigen 75% nitrogen, atmosfer Mars hanya memiliki 0,1% oksigen dan 95% gas CO2. Maka atmosfer Mars memang tidak cocok untuk manusia karena manusia membutuhkan 300 liter lebih oksigen per harinya.
Namun jangan salah, awal mula bumi kita dulu sebagian besar atmosfernya adalah CO2 juga. Bahkan kandungan CO2 di bumi kita pada jaman purba jauh lebih banyak daripada atmosfer Mars saat ini. Namun organisme purba di bumi yang terdiri dari bakteri anaerobik adalah bakteri yang bisa hidup dalam lingkungan tanpa oksigen dan mampu mengubah CO2 menjadi O2.
Dengan bantuan bakteri ini terjadilah produksi oksigen besar-besaran dalam atmosfir bumi yang disebut dengan peristiwa katastropi oksigen. Para ahli geologi mengetahui hal ini dari jejak berlimpahnya oksidasi besi (reaksi besi dengan oksigen) pada batuan-batuan purba.
Selain bakteri anaerobik, ada jenis bakteri lain seperti methylomirabilis oxyfera, yang bisa memproduksi oksigen dari gas metana (CH4). Nah jika bakteri anaerobik dan methylomirabilis oxyfera ini disebarkan di planet mars, maka akan bisa menghasilkan oksigen di planet mars untuk menunjang kehidupan.
Demikian pula deposit es di planet mars bisa menghasilkan oksigen dengan proses elektrolisa air (air dialiri listrik tegangan tinggi). Maka dari sini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa membangun kehidupan di planet Mars bukanlah sesuatu yang mustahil.
Selain dari planet Mars, apakah mungkin ada kehidupan di planet lain di alam semesta ini? Ada ungkapan yang terkenal dalam hal ini. “Seandainya tak ada kehidupan di planet lain di alam semesta ini maka betapa mubadzirnya trilyunan (bahkan bisa jadi lebih) planet di alam semesta ini”. 
Di alam semesta ini ada milyaran galaksi, salah satunya adalah galaksi bima sakti tempat dimana tata surya kita berada. Masing-masing galaksi terdiri dari milyaran bintang. Dan masing masing bintang dikitari oleh planet-planet membentuk tata surya. (Ada juga bintang yang tidak memiliki planet).
Maka di alam semesta ini terdapat trilyunan atau quadriliun planet. Maka apakah tidak ada satu saja.. sekali lagi “satu saja” planet lain yang kondisinya mirip dengan planet bumi? Jawabannya mengejutkan. Para ilmuwan setidaknya telah menemukan beberapa planet di alam semesta ini yang kondisinya mirip bumi dan bintangnya mirip matahari.
Dengan kata lain situasinya sangat ideal untuk munculnya kehidupan seperti di bumi. Salah satunya yang terdekat berjarak 600 tahun cahaya dari bumi (artinya terbang dengan kecepatan cahaya, akan sampai di sana 600 tahun kemudian).  Apakah bisa kita terbang ke sana?
Dengan teknologi kendaraan luar angkasa saat ini memang masih berupa impian. Karena teknologi kita saat ini belum mampu membuat roket yang terbang dengan kecepatan cahaya.
Allah tidak menafikkan sama sekali kemungkinan manusia sanggup menjelajahi langit.
“Hai sekalian jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, (namun) kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan” (Q.S. Ar-Rahman [55] :  33)
Artinya manusia bisa menembus langit asalkan memiliki pengetahuan dan enerji untuk melakukan itu.
Apakah Al-Qur’an berbicara tentang adanya kehidupan di planet lain?
Sebagian besar terjemah Al-Qur’an menerjemahkan kata “dabbah” sebagai hewan atau makhluk melata. Sehingga bayangan kita adalah sejenis kadal atau serangga. Padahal dabbah itu bersifat umum, yaitu makhluk hidup yang memiliki bayang-bayang.
Dari pengertian ini saja kita tahu bahwa dabbah itu bukanlah makhluk ghaib sebangsa jin atau malaikat, melainkan makhluk kasar karena hanya makhluk kasar sajalah yang memiliki bayang-bayang.
Dalam ayat Al-Qur’an dikatakan bahwa Allah menyebarkan dabbah ini di langit dan dibumi.
“Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan dabbah (makhluk hidup) Yang Dia sebarkan pada keduanya (langit dan bumi). Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya”(Q.S. Asy-Syuura [42] : 29)
Perhatikanlah bahwa Allah menyebarkan “dabbah” pada langit dan bumi. Orang pada jaman dulu yang belum bisa memahami kemungkinan adanya kehidupan di planet lain akan memahami ayat ini bahwa yang dimaksud adalah burung-burung yang terbang di langit. Artinya pengertian langit di sini dibatasi langit bumi (atmosfer). Namun siapa yang membatasi maksud “as-samawaat” itu adalah atmosfer bumi??
Perhatikanlah bahwa pada samawaat itu terdapat juga malaikat, maka tidak mungkin malaikat itu berdiam di atmosfer bumi melainkan di langit atas sana.
“Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit  di bumi dari para dabbah (makhluk hidup) dan (juga) para ma]aikat, sedang mereka tidak menyombongkan diri” (Q.S. An-Nahl [16] : 49)
Al Qurthubi menyebutkan pendapat Mujahid terhadap makna dari “dan dabbah yang Dia sebarkan pada keduanya” adalah malaikat dan manusia. Artinya dabbah yang di langit itu adalah malaikat, sedangkan dabbah yang di bumi itu manusia. Hal ini sesuai dengan Q.S. An-Nahl di atas.
Ada pula ulama yang menafikkan arti kata “pada keduanya” Abu ‘Ali berkata : maksudnya adalah “dari salah satu dari keduanya”. (al Jami’ li Ahkamil Qur’an juz XVI hal 350) Sayyid Qutb mengatakan bahwa maksud dari “dan dabbah yang Dia sebarkan pada keduanya”… bahwa kehidupan hanyalah di bumi ini saja—tinggalkanlah olehmu prasangka bahwa di langit terdapat kehidupan yang lain yang kita tidak mengetahuinya”. Pendapat ini jelas tidak tepat karena jelas Al-Qur’an menyatakan menyebarkan pada keduanya. Dan keduanya itu bukanlah salah satu saja.
Adalah dimaklumi jika pendapat para ulama itu mengingkari adanya kehidupan di planet lain karena teknologi dan wawasan mereka belum sampai ke situ. Bahkan seandainya ditanya pada mereka apakah manusia bisa ke bulan pun mereka pasti akan mengingkarinya. Karena para ulama tidak suka berandai-andai dan cenderung membatasi fikiran yang bersifat spekulatif.
Persoalannya lainnya adalah pada kata “samawaat”. Kata ini menunjuk langit secara umum atau lebih tepatnya alam semesta. Langit yang berarti segala sesuatu yang berada di atas bumi; maka awan, bulan, bintang matahari termasuk bagian dari as samaa’. Misalnya pada firman Allah Ta’ala : “dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit (As Samaa)” Q.S. Albaqarah. [2] : 22; As Samaa’ di ayat ini berarti mendung, karena lafadz As Samaa’ adalah bentuk masdar dari سَمَا يَسْمُوْ yang artinya tinggi. Maka as- Sama’ dapat berarti semua yang lebih tinggi.
Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan komet-komet.” (Q.S. Al-Mulk : 5).
Maka langit yang ada bintang bintang ini jelaslah artinya langit alam semesta bukan hanya langit bumi (atmosfer) saja. Maka kalimat pada Q.S. Asy-Syuuara ayat 29 di atas bisa kita pahami bahwa Allah menyebarkan dabbah ke seluruh alam semesta selain yang ada di bumi juga.
Dengan adanya isyarat ini, sebenarnya 14 abad yang lalu Al-Qur’an telah berbicara mengenai kemungkinan adanya kehidupan di planet lain. Belum tentu makhuk hidup di planet lain itu seperti alien yang aneh-aneh, karena itu hanya ada di film-film saja. Makhuk hidup di planet lain itu mungkin kurang lebih sama dengan yang ada di bumi.
Kalaupun memang di planet itu tidak ada makhluk hidup lain maka yang jelas kita berfikir pada hal-hal yang sementara ini disepakati saja yaitu sebagai berikut :
– Ayat Qur’an menyatakan dan sains juga membuktikan kehidupan bermula dari air. Sedangkan di alam semesta ini terdapat beberapa planet yang mengandung air atau minimal berupa es seperti planet Mars. Mungkin suatu saat nanti akan ditemukan lebih banyak lagi planet yang seperti ini. Jika ada air pasti bisa muncul kehidupan.
– Al-Qur’an menyatakan manusia bisa mengarungi alam semesta. Dan faktanya teknologi manusia memang telah mendarat di bulan, sedangkan pesawat luar angkasa tak berawak telah mampu mencapai saturnus.
Maka Kalaupun bukan di planet itu sendiri yang ada dabbah (makhluk), maka manusialah yang akan mendatangi planet yang kondisinya memungkinkan untuk hidup dan manusia akan hidup di sana. Akhirnya waktulah yang akan membuktikan benar tidaknya hal ini. 

sumber :shinta986 & islampos

Selasa, 21 November 2017

Planet Kepler 186f

Sudah lama manusia berusaha mencari planet alternatif karena bumi sudah dianggap terlalu penuh dan suatu saat tidak akan bisa menampung semua manusia. Untunglah sekarang sudah ditemukan Kepler-186F, planet lain yang bisa dihuni selain bumi.
Planet Kepler-186F ditemukan oleh NASA berkat teleskop luar angkasa mereka. Planet ini ditengarai sangat mirip dengan bumi. Planet kembaran bumi ini juga mengorbit dekat bintang, sama seperti bumi dan matahari. Kepler-186F berada sekitar 500 tahun cahaya dari bumi, tepatnya pada konstelasi Cygnus.
Walaupun selama ini NASA sudah menemukan banyak planet yang seukuran bumi dan mengorbit di tata surya, Kepler-186F ini berbeda. Kepler-186F adalah planet pertama yang mengerupai bumi dan berada dalam zona Goldilocks (zona planet yang bisa dihuni karena berada cukup dekat dengan matahari tempat ia mengorbit).
Karena Kepler-186F berada dalam zona Goldilocks, para ilmuwan sekarang sedang mencari tahu tentang bintang yang diorbit oleh planet ini. Jika bintang tersebut menyerupai matahari, maka kemungkinan besar planet tersebut dapat dihuni oleh manusia.
Sejauh ini bumi memang masih merupakan satu-satunya planet yang bisa dihuni oleh manusia. Jika Kepler-186F terbukti dapat ditinggali oleh manusia, maka ini akan menjadi sebuah penemuan yang sangat besar.
Peneliti telah mengetahui bahwa bintang yang diorbit oleh Kepler-186F massanya hanya separuh matahari. Jadi energi yang dipancarkannya hanya sepertiga dari matahari kita. Kepler-186F sendiri mengorbit bintang ini dalam jangka waktu 130 hari. Jauh lebih singkat dari waktu orbit bumi pada matahari.

Membaca Alam Semesta

Para ilmuwan akhirnya harus mengakui rancangan alam semesta begitu sempurna hingga mengisyaratkan adanya perancangan cerdas, tapi mereka tetap berusaha menghindari penjelasan yang mencakup istilah Tuhan.

Teori multiverse telah menelurkan teori lain bahwa alam semesta kita adalah simulasi, tulis Paul Davies.

Jika kita pernah berpikir hidup adalah mimpi, tenang saja. Beberapa ilmuwan tersohor mungkin sependapat. Para filsuf sudah lama bertanya apakah memang ada dunia nyata di luar sana, ataukah “realitas” hanyalah kilasan imajinasi kita.
Lalu datanglah fisikawan quantum, yang menyingkap alam ketidakpastian atom ala Alice in Wonderland, di mana partikel-partikel bisa berupa gelombang, dan benda padat larut ke dalam pola samar energi quantum.

Dan sekarang kosmolog ikut-ikutan, menyatakan bahwa apa yang kita persepsikan sebagai alam semesta mungkin sebetulnya tidak lebih dari simulasi raksasa.
Cerita di balik pernyataan janggal ini berawal dari pertanyaan menjengkelkan: kenapa alam semesta begitu ramah hayati? Sudah lama kosmolog dibingungkan oleh fakta bahwa hukum alam seolah diramu dengan lihai untuk memperkenankan munculnya kehidupan. Ambil contohnya unsur karbon, bahan vital yang menjadi dasar seluruh kehidupan. Itu tidak dibuat dalam [peristiwa] big bang yang melahirkan alam semesta. Justru, karbon dimasak di jeroan bintang-bintang raksasa, yang lantas meledak dan memuntahkan jelaga ke segenap alam semesta.
Proses yang menghasilkan karbon adalah reaksi nuklir rumit. Ternyata, keseluruhan rantai peristiwa tersebut perkara yang amat ketat, meminjam kata-kata Lord Wellington. Jika gaya yang menjaga kesatuan nukleus atom sedikit lebih kuat atau sedikit lebih lemah, reaksi takkan bekerja dengan benar dan kehidupan mungkin tak pernah ada.
Mendiang astronom Inggris Fred Hoyle begitu terpesona oleh kebetulan bahwa gaya nuklir mempunyai kekuatan tepat untuk menghasilkan makhluk seperti dirinya. Dia memproklamirkan alam semesta adalah “konspirasi terencana”. Karena ini terdengar mirip sekali dengan pemeliharaan ilahi, para kosmolog bersusah-payah mencari jawaban ilmiah untuk teka-teki keramah-hayatian kosmik.
Yang mereka hasilkan adalah alam semesta jamak, atau “multiverse”. Teori ini menyatakan apa yang kita sebut “alam semesta” bukanlah alam semesta. Ia adalah fragmen inifinitesimal dari sistem yang jauh lebih akbar dan rumit di mana kawasan kosmik kita, betapapun luasnya, hanya melambangkan satu gelembung ruang di antara gelembung-gelembung lain yang tak terhitung, atau alam semesta saku (pocket universe).
Keadaan jadi menarik ketika teori multiverse digabung dengan ide-ide dari fisika partikel subatom. Bukti terus menggunung bahwa apa yang fisikawan anggap hukum ajeg karunia Tuhan mungkin lebih mirip regulasi lokal, berlaku di petak kosmik kita, tapi beda di alam semesta saku lainnya. Jika bepergian ke satu triliun cahaya di luar galaksi Andromeda, Anda mungkin berada di alam semesta yang gravitasinya sedikit lebih kuat atau elektronnya sedikit lebih berat.
Mayoritas alam-alam semesta lain ini tidak harus mengandung kebetulan-kebetulan setelan halus yang diperlukan untuk munculnya kehidupan; mereka tandus, jadi terus tidak terlihat. Hanya di alam-alam semesta Goldilocks seperti milik kita, di mana aspek-aspeknya ternyata tepat (murni kebetulan), makhluk berperasaan akan timbul dan takjub oleh betapa ramah hayatinya alam semesta mereka.
Itu ide apik, dan sangat populer di kalangan ilmuwan. Tapi itu membawa implikasi ganjil. Karena jumlah total alam semesta saku tidak terbatas, harus ada sekurangnya satu yang bukan cuma berpenghuni, tapi juga didiami oleh peradaban maju—komunitas berteknologi dengan kemampuan komputer memadai untuk menciptakan kesadaran buatan. Bahkan, sebagian ilmuwan komputer berpikir teknologi kita hampir menggapai mesin berpikir.
Tinggal satu langkah kecil dari penciptaan pikiran buatan pada mesin menuju pensimulasian seluruh dunia virtual untuk dihuni makhluk simulasi. Skenario ini jadi familiar sejak dipopulerkan oleh film-film The Matrix.
Kini sebagian ilmuwan menyatakan itu harus diambil serius. “Barangkali kita adalah simulasi…ciptaan suatu entitas tertinggi atau super,” renung Astronomer Royal Inggris, Sir Martin Rees, penganjur kukuh teori multiverse. Dia bertanya-tanya apakah keseluruhan alam semesta fisik adalah aplikasi di dalam realitas virtual, sehingga “kita ada dalam matriks ketimbang fisika itu sendiri”.
Adakah justifikasi untuk mempercayai ide sinting ini? Tentu saja, kata Nic Bostrom, filsuf di Universitas Oxford yang bahkan punya situs khusus untuk topik ini (www.simulation-argument.com). “Karena komputernya begitu canggih, mereka bisa menjalankan banyak simulasi,” tulisnya dalam The Philosophical Quarterly.
Jadi jika ada peradaban berkemampuan simulasi kosmik, maka alam-alam semesta palsu yang mereka ciptakan akan cepat berkembangbiak melampaui jumlah alam semesta asli. Biar bagaimanapun, realitas virtual jauh lebih murah daripada yang asli. Jadi berdasarkan statistik sederhana, seorang pengamat acak seperti saya atau Anda kemungkinan besar adalah makhluk simulasi di dunia palsu. Dan dipandang dari dalam matriks, kita tak pernah bisa menyebut perbedaannya.
Atau bisa? John Barrow, rekan Martin Rees di Universitas Cambridge, penasaran apakah para simulator akan bersusah-payah dan berhambur-hambur menjadikan realitas virtual tahan penyalahgunaan. Jangan-jangan jika menengok cukup cermat, kita akan menangkap pemandangan tertatih-tatih.
Dia bahkan mengisyaratkan bahwa malfungsi dalam sejarah simulasi kosmik kita sudah ditemukan oleh John Webb di Universitas NSW. Webb menganalisa cahaya dari quasar-quasar jauh, dan menemukan sesuatu yang ganjil terjadi sekitar 6 miliar tahun lampau—kecepatan cahaya bergeser tipis. Mungkinkah ini berarti para simulator sedang meléng?
Harus diakui, saya turut bertanggungjawab atas kekacauan ini. Tahun lalu saya menulis sebuah artikel untuk The New York Times. Isinya menyatakan, sekali teori multiverse keluar, skenario-skenario mirip Matrix pasti mengekor. Kesimpulan saya: mungkin seharusnya kita mempertahankan skeptisime sehat terhadap konsep multiverse sampai hal ini dijernihkan. Tapi jauh dari meredakan teori, itu justru menggenjot antusiasme terhadapnya.
Bagaimana akhir semua itu? Jelek, barangkali. Setelah para simulator tahu kita mengenali mereka, dan permainan sudah habis, mereka mungkin kehilangan minat dan memutuskan menekan tombol “hapus”. Demi kebaikan Anda, jangan percaya sepatah katapun tulisan saya ini.
Konsep Multiverse dan Pararel Universe merupakan sebuah konsep yang menarik karena dalam konsep tersebut menyebutkan bahwa alam semesta ini tidak hanya satu, melainkan banyak. Banyak orang yang menentang dua konsep tersebut, sebuah kejadian yang sangat mirip dengan penolakan orang yang percaya bahwa bumi adalah pusat alam semesta dan tidak mungkin ada planet lain di luar bumi. Meskipun sama, namun Multiverse dan Pararel Universe mempunyai dua buah perbedaan yang mendasar. Multiverse hanya menyebutkan bahwa terdapat alam semesta lain di luar alam semesta kita, tanpa menyebutkan bahwa ada kemungkinan-kemungkinan alam semesta yang berbentuk mirip atau menyerupai dengan alam semesta kita. Sedangkan Pararel Universe lebih mengedepankan tentang adanya alam semesta lain yang mirip dengan alam semesta yang ada pada kita. Bahkan, dalam teori tersebut memungkinkan adanya versi-versi lain dari diri kita dengan jalan hidup yang sedikit atau banyak berbeda.
multiverse-pararel-universe
Secara nalar, kedua konsep tersebut sama-sama dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Namun, saya sendiri sebagai seorang amatir tidak terlalu suka dengan konsep Pararel Universe dan condong kepada konsep Multiverse saja. Di luar sana, barangkali terdapat ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan alam semesta lain. Namun, masing-masing dari alam semesta itu berbentuk unik dan mempunyai ciri khas mereka masing-masing. Jika satu atau dua alam semesta mempunyai kemiripan, itu lebih disebabkan karena kebetulan.
Analoginya seperti ini, di dunia ini ada milyaran manusia. Satu dan lain mempunyai bentuk yang mungkin hampir sama, namun tetap saja tiap individu itu unik dan mempunyai pembeda. Hal tersebut terjadi di setiap bentuk kehidupan, maupun di setiap bentuk benda. Setiap benda dan makhluk hidup barangkali mempunyai unsur penyusun yang sama, namun mereka tetap mempunyai keunikan masing-masing. Saya mempunyai pikiran (walaupun hanya sebatas pikiran) bahwa jika ada alam semesta lain, maka bentuk dan keadaannya unik, tidak ada yang persis sama antara satu dengan yang lain. Dengan kata lain, tidak ada konsep diri kita yang berada di alam semesta lain. Dan, alam semesta di luar alam semesta kita mempunyai keterbatasan dalam segi jumlah. Karena ada sebuah tempat dan waktu (yang walaupun konsepnya cukup berbeda dengan ruang dan waktu yang ada di dalam alam semesta kita), tempat dan waktu itu membatasi jumlah alam semesta – alam semesta lain di luar alam semesta kita.
Memang apa yang coba saya utarakan di sini tidak mempunyai bukti. Namun, begitu juga dengan konsep pararel universe yang selama ini berkembang dengan luas. Ada yang mengatakan juga jika dejavu merupakan ketersinggungan antara dunia kita dengan sebuah dunia pararel, namun cukup aneh jika kita membayangkan bahwa ada suatu tempat (riil) yang mempunyai jumlah hampir tak terbatas/ tak terhingga. Dahulu, dalam euforia science, ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa alam semesta itu sendiri tidaklah terbatas, namun bukan begitu cara alam bekerja. Semua pasti mempunyai batasnya. Dan, sekarang kita mempunyai bukti yang cukup kuat untuk percaya bahwa alam semesta kita sendiri mempunyai batasannya. Batasan dari segi luas maupun batasan dari segi usia.

Jika memang segala hal di alam semesata kita (di dalam alam semesta mempunyai batasan). Maka, kemungkinan besar semua di luar alam semesta kita juga mempunyai batasan. Meskipun mereka hadir dalam jumlah yang nyaris tak terhitung oleh matematika, namun tetap saja terdapat sebuah titik batasan. Kalaupun memang pararel universe itu ada, dan ada versi-versi dari diri kita yang muncul di sana, itu adalah sebuah konsekuensi dari hitungan random, bukan karena konsekuensi logis adanya multiverse. Memang sedikit sulit untuk membuang persamaan atau setidaknya kemiripan dari multiverse dan pararel universe. Namun bagiku, keduanya mempunyai aliran perspektif yang berbeda. Mungkin saja pendapatku ini salah, dan itu wajar karena manusia memang mempunyai keterbatasan dalam berandai-andai dan berpemikiran. Sebuah konsekuensi random dari jaringan-jaringan syaraf yang ada di kepala kita.
Paul Davies adalah profesor ilmu alam di Australian Centre for Astrobiology Universitas Macquarie. Buku terbarunya adalah How to Build a Time Machine

Kamis, 12 Oktober 2017

Antara Ghibah, Namimah dan Fitnah

Antara Ghibah, Namimah dan Fitnah

Membicarakan kejelekan orang lain itu ada 3 tingkatan yang kesemuanya tentu saja sangat dibenci oleh manusia. Allahpun bahkan sangat membenci penggunjing ini dengan memberikan perumpamaan bahwa mereka seperti memakan bangkai saudaranya yang telah mati.
Ketiga tingkatan itu adalah :
Ghibah
Ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan). Baik dalam keadaan soal jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, ahlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya. Caranya-pun bermacam-macam. Di antaranya dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok.
Adapun kejelekan dari menggibah ini sebagaimana disebutkan :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ 
أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ ١٢
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS Al Hujurat ayat 12)
Adapun yang dimaksud ghibah disebutkan dalam hadits berikut,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya, “Tahukah kamu, apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu tentang dirinya, maka berarti kamu telah menggibahnya (menggunjingnya). Namun apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah menfitnahnya (menuduh tanpa bukti).” (HR. Muslim no. 2589, Bab Diharamkannya Ghibah)
Wajib bagi orang yang hadir dalam majlis yang sedang menggunjing orang lain, untuk mencegah kemungkaran dan membela saudaranya yang dipergunjingkan. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam amat menganjurkan hal demikian, sebagaimana dalam sabdanya. "Artinya : Barangsiapa menolak (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan menolak menghindarkan api Neraka dari wajahnya". (HR Ahmad)
Ghibah dan menfitnah (menuduh tanpa bukti) sama-sama keharaman. Namun untuk ghibah dibolehkan jika ada tujuan yang syar’i yaitu dibolehkan dalam enam keadaan sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah. Enam keadaan yang dibolehkan menyebutkan ‘aib orang lain adalah sebagai berikut:
  1. Mengadu tindak kezaliman kepada penguasa atau pada pihak yang berwenang. Semisal mengatakan, “Si Ahmad telah menzalimiku.”
  2. Meminta tolong agar dihilangkan dari suatu perbuatan mungkar dan untuk membuat orang yang berbuat kemungkaran tersebut kembali pada jalan yang benar. Semisal meminta pada orang yang mampu menghilangkan suatu kemungkaran, “Si Rahmat telah melakukan tindakan kemungkaran semacam ini, tolonglah kami agar lepas dari tindakannya.”
  3. Meminta fatwa pada seorang mufti seperti seorang bertanya mufti, “Saudara kandungku telah menzalimiku demikian dan demikian. Bagaimana caranya aku lepas dari kezaliman yang ia lakukan.”
  4. Mengingatkan kaum muslimin terhadap suatu kejelekan seperti mengungkap jeleknya hafalan seorang perowi hadits.
  5. Membicarakan orang yang terang-terangan berbuat maksiat dan bid’ah terhadap maksiat atau bid’ah yang ia lakukan, bukan pada masalah lainnya.
  6. Menyebut orang lain dengan sebutan yang ia sudah ma’ruf dengannya seperti menyebutnya si buta. Namun jika ada ucapan yang bagus, itu lebih baik. (Syarh Shahih Muslim, 16: 124-125)

Ada juga yang membela diri ketika diingatkan, “Tapi yang saya beritakan tentangnya ini adalah benar ustadz.” Ketahuilah saudara, bahwa ghibah itu adalah menceritakan kejelekan orang lain yang bila dia mendengar dia akan tidak suka hal tersebut, meskipun itu benar adanya hukumnya tetap haram. Sedang bila yang diceritakan ada sisi bohongnya, maka itu disebut namimah. Sedang bila yang diceritakan itu tidak ada benarnya sama sekali, itu namanya fitnah.
Ketiganya termasuk dosa besar yang harus kita jauhi.
Namimah
Namimah adalah menukil (memindahkan) ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan atau persaudaraan di antara keduanya. Biasanya memang ada unsur kebenarannya, namun ditambah dan dikurangi oleh pelakunya dengan tujuan tertentu dengan menambahi kebohongan.
Allah dan Rasul-Nya sungguh telah mencela orang yang berbuat namimah dan melarang kita mendengarkan ucapannya. Allah berfirman:
وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٖ مَّهِينٍ ١٠  هَمَّازٖ مَّشَّآءِۢ بِنَمِيمٖ ١١  مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ مُعۡتَدٍ أَثِيمٍ ١٢
10. Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina
11. yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah
12. yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa
(QS Al Qolam ayat 10-12)
Rasulullah n bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ
“Tidak akan masuk surga, orang yang qattat (yakni ahli namimah).” (HR. Al-Bukhari dari Hudzaifah)
Dalam sebuah riwayat dalam Shahih Muslim:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ
“Tidak akan masuk surga, ahli namimah.”
Maka berhati hatilah kita terhadap bahaya sifat yang satu ini. Sebab yang namanya ghibah dan namimah ini terkadang muncul tidak secara kita sadari ketika kita sedang  mengobrol dengan teman. Jika kita sampai meninggal kita belum terampuni Allah, maka kita biosa terancam tidak masuk surga.
Semoga kita tidak termasuk orang yang berbuat demikian. Amien yra.
Fitnah
Fitnah merupakan komunikasi kepada satu orang atau lebih yang bertujuan untuk memberikan stigma negatif atas suatu peristiwa yang dilakukan oleh pihak lain berdasarkan atas fakta palsu yang dapat memengaruhi penghormatan, wibawa, atau reputasi seseorang. Kata "fitnah" diserap dari bahasa Arab, dan pengertian aslinya adalah "cobaan" atau "ujian".
Hal terkait fitnah adalah pengumuman fakta yang bersifat pribadi kepada publik, yang muncul ketika seseorang mengungkapkan informasi yang bukan masalah umum, dan hal tersebut bersifat menyerang pribadi yang bersangkutan. Maka karena hal yang demikian, orang yang difitnah akan merasa sangat marah, kesal dan tidak terima diberitakan yang tidak benar karena dia tidak merasa melakukannya.
Kita sudah membaca bahwa ghibah saja yang notabene berdasarkan suatu kenyataan, namun karena si orang terghibahnya merasa tidak senang dengan hal tersebut, Allah menghukuminya seperti memakan daging busuk saudaranya, dan juga namimah yang kondisinya seperti ghibah, namun ditambah dan dikurangi dengan tujuan untul menghancurkan seseorang atau mengadu dombanya dengan pihak lain, apalagi fitnah. Yang notabene adalah berita bohong belaka, tidak ada unsur benarnya sama sekali. Kita tidak bisa membayangkan besarnya dosa pelakunya.
Sedikit berbeda dengan pengertian umum dalam bahasa Indonesia, fitnah dalam Al Qur’an mempunyai pengertian 4 macam, yaitu :
Pertama : FITNAH artinya membakar dengan api
Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ ١٣
(Hari pembalasan itu) ialah pada hari ketika mereka difitnah (diazab di atas api neraka) (QS Adz Dzariyat ayat 13)
Pada ayat diatas kata "يُفْتَنُونَ" : "di-FITNAH" maksudnya adalah diadzab atau dibakar (dengan api).

Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ثُمَّ لَمۡ يَتُوبُواْ فَلَهُمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمۡ عَذَابُ ٱلۡحَرِيقِ ١٠
Sesungguhnya orang-orang yang memfitnah kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. (QS Al Buruj ayat 10)
Pada ayat diatas kata "فَتَنُوا" : "mem-FITNAH" maksudnya adalah membakar mereka (orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan) di dalam parit yang berapi (yang dinyalakan dengan) kayu bakar.
Kedua : FITNAH bermakna ujian/cobaan.
Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ ٣٥
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji (memfitnah) kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah, cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan 
FITNAH disini maksudnya adalah cobaan
Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا * لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ
"Dan bahwasanya: jika mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). Untuk Kami FITNAH mereka padanya."
Pada ayat diatas kata "لِنَفْتِنَهُمْ" : "Untuk Kami FITNAH mereka" maksudnya adalah "Untuk Kami beri COBAAN kepada mereka"
Ketiga: FITNAH bermakna akibat buruk dari keburukan
Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ
Dan perangilah mereka, supaya jangan ada FITNAH dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah." (QS Al Anfal 39)
Jelas disini maksudnya adalah supaya tidak ada lagi keburukan akibat perbuatan buruk.
Ke-empat: Fitnah bermakna alasan/argumen (الحجة)
Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wata'ala :
ثُمَّ لَمْ تَكُن فِتْنَتُهُمْ إِلاَّ أَن قَالُواْ وَاللَّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِينَ
Kemudian tiadalah FITNAH mereka, kecuali mengatakan: "Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah"
Menurut sebagian ulama, maksud dari ayat tersebut adalah : Kemudian tiadalah alasan/argumen mereka, kecuali mengatakan: "Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah".

Demikianlah beberapa makna FITNAH yang terdapat dalam Al Qur'an, adapun makna FITNAH yang kebanyakan orang pahami bahwa FITNAH itu "perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang" adalah FITNAH secara Bahasa bukan secara Istilah Syari'at sebagaimana telah disebutkan diatas.
Sehingga tidaklah pas kata FITNAH yang mereka maksud dikuatkan dengan Firman Allah Subhanahu wata'ala :
وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ
"Dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan"
Karena kata FITNAH pada ayat diatas maknanya adalah "Akibat buruk dari keburukan" sesuai poin ke tiga, sebagaimana yang disebutkan dalam tafsir dan sebab turunnya bahwa ayat tersebut maknanya adalah : "Kesyirikan dan menghalangi manusia dari Agama Allah itu lebih besar bahayanya dibandingkan dengan pembunuhan"
Maka waspadalah terhadap 3 dosa besar diatas, karena ketiga dosa besar tersebut diatas seringkali tidak terasa kita lakukan terutama ghibah. Karena ketika kita mengobrol dengan teman, kalau terlalu asyik bergurau, unsur ghibah ini sangat boleh jadi merupakan bumbu penyedap utama dalam bersenda gurau.
Mari kita saling mendoakan semoga kita terhindar dari dosa-dosa tersebut.

Senin, 02 Oktober 2017

Keruntuhan sang jenderal besar


Tim Kejaksaan Agung menemukan indikasi penyimpangan penggunaan dana yayasan-yayasan yang dikelola Soeharto. Indikasi penyimpangan terlihat dari anggaran dasar yayasan tersebut.

6 September 1998
Soeharto lewat Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) mengumumkan bahwa dia tak memiliki kekayaan seperti yang disebut-sebut oleh berbagai media massa saat itu. "Saya tidak punya uang satu sen pun," demikian kata Soeharto.

9 September 1998
Tim Konsultan Cendana meminta kepada Presiden serta Menteri Pertahanan dan Keamanan untuk menjaga dan melindungi Soeharto ekstraketat dari hinaan, cercaan, dan hujatan yang ditujukan kepadanya.


11 September 1998

Pemerintah Swiss menyatakan bersedia membantu pemerintah RI melacak rekening-rekening Soeharto di luar negeri. (Baca juga: Tommy Kaitkan Perkara Supersemar dengan Persaingan Rezim)


15 September 1998

Jaksa Agung Andi M. Ghalib ditunjuk sebagai Ketua Tim Investigasi Kekayaan Soeharto.


21 September 1998

Jaksa Agung Andi M. Ghalib berkunjung ke rumah Soeharto di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat, untuk mengklarifikasi kekayaan Soeharto.


25 September 1998

Soeharto datang ke Kantor Kejaksaan Agung untuk menyerahkan dua konsep surat kuasa guna mengusut harta kekayaannya, baik di dalam maupun di luar negeri.

29 September 1998
Kejaksaan Agung membentuk Tim Penyelidik, Peneliti dan Klarifikasi Harta Kekayaan Soeharto dipimpin Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Antonius Sujata.


22 Oktober 1998

Jaksa Agung Andi M Ghalib menyatakan keputusan presiden yang diterbitkan mantan presiden Soeharto terkait Yayasan Supersemar, sudah sah secara hukum. Kesalahan terletak pada pelaksanaannya. (Baca juga: Keluarga Soeharto Diminta Bayar Ganti Rugi Rp 4,4 Triliun)


21 November 1998

Presiden Habibie mengusulkan pembentukan komisi independen untuk mengusut harta Soeharto. Tapi usul ini kandas.

22 November 1998
Soeharto menulis surat kepada Presiden Habibie, berisi pemberitahuan penyerahan tujuh yayasan yang dipimpinnya kepada pemerintah.


2 Desember 1998

Presiden Habibie mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 30 Tahun 1998 tentang Pengusutan Kekayaan Soeharto.

5 Desember 1998
Jaksa Agung mengirimkan surat panggilan kepada Soeharto.
7 Desember 1998
Di depan Komisi I DPR, Jaksa Agung mengungkapkan hasil pemeriksaan atas tujuh yayasan Soeharto: Dharmais, Dakab (Dana Abadai Karya Bhakti), Supersemar, Amal Bhakti Muslim Pancasila, Dana Mandiri, Gotong Royong, dan Trikora.  (Baca juga: Keluarga Soeharto Belum Tahu Harus Bayar Rp 4,4 Triliun)


Sejumlah yayasan memiliki kekayaan senilai Rp4,014 triliun. Jaksa Agung juga menemukan rekening atas nama Soeharto di 72 bank di dalam negeri senilai deposito Rp24 miliar, dengan Rp23 miliar tersimpan di rekening BCA, serta tanah seluas 400 ribu hektare atas nama Keluarga Cendana.

9 Desember 1998
Soeharto diperiksa Tim Kejaksaan Agung terkait dugaan penyalahgunaan dana di sejumlah yayasan, program Mobil Nasional, kekayaan di luar negeri, perkebunan dan peternakan Tapos.


Pemeriksaan Soeharto selama empat jam dipimpin Jampidsus Antonius Sujata di Gedung Kejaksaan Tinggi Jakarta. Pemeriksaan saat itu batal dilakukan di Gedung Kejaksaan Agung dengan alasan keamanan.



12 Januari 1999



Tim 13 Kejaksaan Agung menyatakan menemukan indikasi unsur perbuatan melawan hukum yang dilakukan Soeharto.



4 Februari 1999

Kejaksaan Agung memeriksa Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut, putri sulung Soeharto, selaku Bendahara Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan yang dipimpin Soeharto.


9 Februari 1999

Soeharto melalui tujuh yayasan yang dipimpinnya mengembalikan uang negara sebesar Rp 5,7 triliun.


11 Maret 1999

Soeharto, melalui kuasa hukumnya Juan Felix Tampubolon, meminta Jaksa Agung menghentikan penyelidikan terhadapnya atas dugaan korupsi kolusi nepotisme.


13 Maret 1999

Soeharto menjalani pemeriksaan tim dokter yang dibentuk Kejaksaan Agung di RSCM.  (Simak FOKUS: Ungkit Kembali Perkara Soeharto)

16 Maret 1999
Koran The Independent, London, memberitakan Keluarga Cendana menjual properti di London senilai 11 juta poundsterling (setara Rp 165 miliar).

26 Mei 1999 
Jampidsus Antonius Sujata, Ketua Tim Pemeriksaan Soeharto, dimutasi.

27 Mei 1999
Soeharto menyerahkan surat kuasa kepada Kejaksaan Agung untuk mencari fakta dan data berkaitan dengan simpanan kekayaan di bank-bank luar negeri (Swiss dan Austria).

28 Mei 1999
Soeharto mengulangi pernyataan bahwa dia tidak punya uang sesen pun.



30 Mei 1999



Andi Ghalib dan Menteri Kehutanan Muladi berangkat ke Swiss untuk menyelidiki dugaan transfer uang sebesar US$ 9 miliar dan melacak harta Soeharto lainnya.




11 Juni 1999



Muladi menyampaikan hasil penyelidikannya bahwa dia tidak menemukan simpanan uang Soeharto di bank-bank Swiss dan Austria. 




9 Juli 1999



Tiga kroni Soeharto –Bob Hasan, Kim Yohannes Mulia dan Deddy Darwis– diperiksa Kejaksaan Agung dalam kasus yayasan yang dikelola Soeharto.




19 Juli 1999



Soeharto terserang stroke dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan. 




11 Oktober 1999



Pemerintah menyatakan tuduhan korupsi Soeharto tak terbukti karena minimnya bukti. Kejagung mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap kasus Soeharto. Aset yang ditemukan diserahkan kepada pemerintah. 




6 Desember 1999



Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid membuka kembali pemeriksaan kekayaan Soeharto.



Jaksa Agung baru, Marzuki Darusman, mencabut SP3 Soeharto.




29 Desember 1999



Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menolak gugatan praperadilan Soeharto atas pencabutan SP3 oleh Jaksa Agung.




14 Februari 2000



Kejaksaan Agung memanggil Soeharto guna menjalani pemeriksaan sebagai tersangka tapi tidak hadir dengan alasan sakit.




16 Februari 2000



Jaksa Agung Marzuki Darusman membentuk Tim Medis untuk memeriksa kesehatan Soeharto.




31 Maret 2000



Soeharto dinyatakan sebagai tersangka penyalahgunaan uang dana yayasan sosial yang dipimpinnya.




3 April 2000



Tim Pemeriksa Kejaksaan Agung mendatangi kediaman Soeharto di Jalan Cendana. Baru dua pertanyaan diajukan, tiba-tiba tekanan darah Soeharto naik.




13 April 2000 



Soeharto dinyatakan sebagai tahanan kota.




29 Mei 2000



Soeharto dikenakan tahanan rumah.




7 Juli 2000



Kejaksaan Agung mengeluarkan surat perpanjangan kedua masa tahanan rumah Soeharto.




14 Juli 2000



Pemeriksaan Soeharto dinyatakan cukup dan siap diberkas setelah Kejaksaan Agung meminta keterangan dari 140 saksi.




15 Juli 2000



Kejaksaan Agung menyita aset dan rekening yayasan-yayasan Soeharto.




3 Agustus 2000



Soeharto resmi menjadi tersangka penyalahgunaan dana yayasan sosial yang didirikannya dan dinyatakan sebagai terdakwa berbarengan dengan pelimpahan berkas perkara ke Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.




8 Agustus 2000 



Kejaksaan Agung menyerahkan berkas perkara ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.




22 Agustus 2000



Menteri Hukum dan Perundang-undangan Yusril Ihza Mahendra menyatakan proses peradilan Soeharto dilakukan di Departemen Pertanian, Jakarta Selatan, karena alasan keamanan.




23 Agustus 2000



PN Jakarta Selatan memutuskan sidang pengadilan Soeharto digelar pada 31 Agustus 2000 dan Soeharto diperintahkan hadir.




31 Agustus 2000



Soeharto tidak hadir dalam sidang pengadilan pertamanya. Tim Dokter menyatakan Soeharto tidak mungkin mengikuti persidangan dan Hakim Ketua Lalu Mariyun memutuskan memanggil tim dokter pribadi Soeharto dan tim dokter RSCM untuk menjelaskan perihal kesehatan Soeharto.




14 September 2000



Soeharto kembali tidak hadir di persidangan dengan alasan sakit. 




23 September 2000



Soeharto menjalani pemeriksaan di RS Pertamina selama sembilan jam oleh 24 dokter yang diketuai Prof dr M Djakaria. Hasil pemeriksaan menunjukkan, Soeharto sehat secara fisik, namun mengalami berbagai gangguan syaraf dan mental sehingga sulit diajak komunikasi. Berdasar hasil tes kesehatan ini, pengacara Soeharto menolak menghadirkan kliennya di persidangan.




28 September 2000



Majelis Hakim menetapkan penuntutan perkara pidana HM Soeharto tidak dapat diterima dan sidang dihentikan. Tidak ada jaminan Soeharto dapat dihadapkan ke persidangan karena alasan kesehatan. Majelis juga membebaskan Soeharto dari tahanan kota.




27 Maret 2008



PN Jakarta Selatan mengabulkan gugatan Kejaksaan Agung dan menghukum Yayasan Supersemar yang diketuai Soeharto membayar ganti rugi kepada negara sebesar Rp46 miliar karena menyelewengkan pengelolaan dana pendidikan. Saat itu Soeharto telah wafat, sehingga tanggung jawab jatuh kepada keluarganya selaku ahli waris.




19 Februari 2009



Putusan PN Jakarta Selatan diperkuat Pengadilan Tinggi DKI Jakarta yang menyatakan Yayasan Supersemar telah melakukan perbuatan melawan hukum.




28 Oktober 2010



Putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta diperkuat lagi di tingkat kasasi Mahkamah Agung. Majelis hakim yang diketuai Hakim Agung Harifin Tumpa menghukum Yayasan Supersemar membayar ganti rugi kepada negara. 



Namun putusan itu salah ketik, yang mestinya tertulis Rp185 miliar malah jadi Rp185 juta. Jumlah nol dalam ketikan tersebut kurang tiga. Kesalahan ketik ini membuat putusan tidak dapat dieksekusi. Keluarga Sooeharto tidak diperintahkan membayar ganti rugi kepada negara saat itu juga.




September 2013



Jaksa mengajukan Peninjauan Kembali atas perkara Yayasan Supersemar. Serupa, Yayasan Supersemar pun mengajukan PK.




Juli 2015



Mahkamah Agung memutus mengabulkan PK Jaksa dan menolak PK Yayasan Supersemar sehingga keluarga Soeharto harus membayar ganti rugi Rp4,4 triliun kepada negara (berdasarkan kurs saat ini).