Minggu, 07 Juni 2020

Sejarah Klan Rothschild menguasai Dunia



Rotschildt
Simbol Keluarga Rothschild

Pada perang dunia II sebagian besar orang mungkin akan kesal dengan si biangkerok world war II Adolf Hitler yang menyerang negara negara Eropa disekitar Jerman terlebih pembantaian yang dilakukan terhadap orang yahudi (Holocaust). sejak dahulu banyak orang penasaran mengapa Hitler begitu membenci Orang-orang yahudi. al-quran sudah menjelaskan tentang keistimewaan orang -yahudi ribuan tahun yang lalu dan terbukti sampai saat ini bangsa yahudi yang hanya 15 juta jiwa akan tetapi menggenggam dunia. salah satu tokoh yahudi yang paling berpengaruh adalah keluarga Rothschild. awal kisah Pada tahun 1744, lahirlah seorang laki-laki keturunan Yahudi bernama Mayer Amschel Bauer. Ia tinggal di Ghetto (Judengesse), Frankfurt, Jerman. Ayahnya adalah seorang pengusaha menengah yang bergerak pada bisnis pertukaran uang. Saat Mayer berumur 12 tahun, ayahnya wafat. Ia terpaksa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Kemudian ia mengembangkan karirnya sebagai penjual medali dan koin langka. Tahun 1769 ia berhasil mengembangkan usahanya menjadi bisnis bank dan pedagang emas. Di tempat usahanya, ia memasang jimat Perisai Merah yang dalam Bahasa Jerman disebut Rotschildt, kemudian diserap ke dalam Bahasa Inggris menjadi Rothschild. Maka dari jimat tersebut kemudian Mayer Amschel Bauer lebih dikenal dengan Mayer Amschel Rothschild. Simbol inilah yang nantinya menjadi lambang negara Israel saat ini. Mereka orang Israel mengklaim bahwa lambang tersebut adalah Konstelasi Bintang Daud. Padahal, lambang tersebut adalah lambang dari keluarga Rothschild yang memiliki andil dalam membentuk negara Israel di Palestina.
Kemudian melalui relasinya dengan secret societies, ia dipercaya menjadi salah satu bankir kepercayaan keluarga Pangeran William IX – Hesse Kassel, seorang monarki terkaya di Jerman. Pangeran William IX adalah cucu dari Raja George II (Raja Inggris), sepupu Raja George III, keponakan Raja Denmark, dan Ipar Raja Swedia. Dialah yang memberi dana awal Rothschild. Bisnis dari Raja William IX adalah memasok tentara bayaran. Dari sinilah Rothschild belajar bahwa perang adalah proyek yang menghasilkan uang. Dan Rothschild juga belajar bahwa bisnis paling menguntungkan adalah memberikan hutang kepada para Raja. Ia melihat bahwa raja sudah pasti memiliki pendapatan tetap, yakni dari pajak rakyat. Untuk melancarkan rencana bisnisnya, Rothschild mengirimkan lima puteranya ke beberapa negara di Eropa.

Anak Rothschild
Anak Rothschild

Amschel Rothschild, putera pertama Rothschild ditempatkan di Jerman. Sedangkan di Austria, ia menempatkan Salomon Rothschild. Nathan Rothschild dikirim ke London Inggris. Carl Rothschild ke Italia, dan yang terakhir Jacob Rothschild, ditempatkan di Paris, Perancis.
Kelima orang anak lelakinya, atas arahan Meyer, mengembangkan bisnis keuangan keluarga mereka di negara-negara tersebut dengan membangun bank serta membangun jaringan bisnis keuangan internasional di antara mereka. [Lihat Youssef M. Ibrahim, ‘Restoring the House of Rothschild,’ The New York Times, 27 Oktober 1996]
Natan Rothschild, anak Meyer yang mengembangkan bank di London, dikutip dalam ”The Rothschild Story” dikabarkan pernah menyatakan,
“Saya tak perduli siapa boneka yang diletakkan di tahta Inggris untuk memerintah kekaisaran yang matahari tidak pernah terbenam di atasnya. Orang yang mengendalikan suplai keuangan Inggris merupakan pengendali kekaisaran Inggris, dan sayalah yang mengendalikan suplai uang Inggris.”

Illuminati
Illuminati

Pada tanggal 1 Mei 1776, Rothschild yang terinspirasi dari ajaran Okultis Freemason, membentuk kelompok satanis bernama Bavarian Illuminati. Ia mengangkat Adam Weishaupt sebagai Eksekutif. Adam Weishaupt lahir pada tanggal 6 Februari 1748 di Ingolstadt, kerajaan Bavaria, Jerman. Ketika ia masih bayi orang-tuanya yang tadinya memeluk agama Yahudi Orthodoks beralih memeluk agama Katolik Roma. Yang semestinya ia bersekolah di Yeshiva (madrasah Yahudi), Adam kecil disekolahkan oleh orang-tuanya ke sekolah dasar Katolik, dan kemudian ke Hochschule (sekolah menengah umum) yang dikelola oleh Ordo Jesuit. Sebagai warga Bavaria, Adam mempelajari bahasa Czech dan Itali, dan di sekolah dengan cepat ia menguasai bahasa Latin dan Yunani, dan dengan bantuan ayahnya, menguasai bahasa Ibrani.
Dengan kecerdasannya yang tajam dan penguasaannya pada berbagai bahasa, para pendeta Jesuit yang mengasuhnya berharap ia akan menjadi seorang missionaris yang sangat cocok untuk bekerja di seberang lautan, terutama di Amerika Latin, atau di Asia. Tetapi Adam Weishaupt memberontak terhadap disiplin yang berlaku di lingkungan Ordo Jesuit. Ia melawan

Illuminati
Salah satu Simbol Illuminati

tekanan mereka dan merasa lebih baik menjadi profesor di bidang hukum gereja di Universitas Ingolstadt.
Kira-kira pada tahun 1768 Adam Weishaupt mulai membangun sebuah perpustakaan yang besar dengan maksud untuk membentuk suatu akademi ilmu pengetahuan dan sebagai tempat berhimpunnya para cendekiawan. Ia mempelajari hampir setiap manuskrip kuno Kabbala dan buku-pegangan apa pun yang ada kaitannya dengan ajaran tersebut. Adam Weishaupt sejak itu mulai tertarik pada okultisme, dan terobsesi bukan hanya oleh ajarannya tetapi sampai kepada lambang Kabbala, yaitu sebuah piramida besar dengan sebiji mata yang menyala.

Piramida Terpancung
Piramida Terpancung pada Dollar Amerika. Terinspirasi dari simbol pergerakan Bavarian Illuminati.

Rothschild dan Adam Weishaupt bekerja sama merekrut para doktoral, ahli ekonomi, ahli politik dan hukum, politikus, dan kaum intelek lainnya. Tujuan mereka tidak lain adalah menguasai keuangan dan pemerintahan di seluruh dunia. Mereka membangun Masonic Lodge (Gereja Setan) di Perancis dan menjadikan Lodge tersebut sebagai markas. Lengkap dengan simbol piramida terpancung. Diresmikanlah Sekte Bavarian Illuminati dengan para penganutnya yang disebut Illuminatus (Yang Tercerahkan).

Ajaran Illuminati memang mengakar pada ajaran Freemason, namun tidak semua Freemason adalah IlluminatiIlluminati memiliki banyak cabang sebagaimana FreemasonBavarian Illuminati adalah satu-satunya cabang yang bertujuan untuk menguasai keuangan dan pemerintahan negara-negara di dunia. Pada tahun 1785, Pemerintah Jerman berhasil membongkar rencana Bavarian Illuminati dan membubarkan gerakan mereka. Sejak saat itu, mereka tidak lagi berkembang sebagai sebuah organisasi atau gerakan, melainkan sebuah ideologi. Dengan ideologi ini, mereka memiliki tujuan yakni mewujudkan “Novus Ordo Seclorum” (Bahasa Inggris: New World Order Bahasa Indonesia: Tatanan Dunia Baru). Sebuah Ideologi yang sangat menakutkan. Satu pemerintahan dunia di bawah kepemimpinan mereka. Mereka membuat propaganda melalui ritual, simbol, dan arsitektur untuk mempengaruhi masyarakat dunia.
Tahun 1793 secara diam-diam mereka mendanai Jacobin dalam rangka revolusi Perancis menjadi negara republik dengan syarat mendapatkan wewenang atau konsesi dari pemerintahan yang baru nantinya. Tujuh tahun kemudian, Perancis menyerahkan bank nasionalnya kepada swasta, yakni Banque de France yang juga milik Rothschild. Ketika perang Waterloo meletus pada tahun 1803-1815, keluarga Rothschild mendanai dua pihak yang berperang yakni Inggris dan Perancis. Nathan Rothschild membiayai Inggris lewat hutang. Ia menyuplai dana kepada Jendral Wellington. Sedangkan Jacob Rothschild membiayai Napoleon, Raja Perancis. Tak peduli pihak mana yang menang atau yang kalah, Rothschild tetap diuntungkan.
Pada tahun 1791, Rothschild masuk ke Amerika melalui agennya yang beranama Alexander Hamilton yang menjadi mentri keuangan pertama di era Presiden George Washington. Melalui agennya tersebut, ia berhasil mendirikan bank sentral Amerika yang pertama —First Bank of United States. Mereka diberi konsesi selama 20 tahun.
Salah satu ucapan Rothschild yang terkenal adalah:
“Beri aku kesempatan untuk mengendalikan ekonomi suatu bangsa, dan aku tidak akan pedulikan siapa yang berkuasa (Permit me to issue and control the money of a nation, and I care not who makes it’s laws).”
Pada masa akhir konsesi, yakni tahun 1811. Amerika tidak mau memperpanjang konsesi Rothschild. Sehingga dibuatlah skenario adu domba. Inggris menyerang Amerika pada tahun 1812 atas hasutan Nathan Rothschild di London. Perang tersebut bahkan sampai membuat Gedung Putih terbakar pada tahun 1814. Rothschild yang licik kembali menang sehingga diperpanjanglah konsesi mereka selama 20 tahun lagi dengan terbentuknya The Second Bank of United States yang juga milik Rothschild tahun 1815.
Selain itu, Rothschild memiliki ambisi untuk memperoleh wewenang mencetak uang di setiap negara. Negara-negara di Eropa berhutang padanya pasca perang kecuali Tsar Rusia. Ia menekan raja-raja di Eropa karena hutang yang ia berikan sebelumya. Sehingga pada tahun 1814-1815 diadakanlah Congres of Vienna dengan tujuan membentuk mata uang tunggal di Eropa. Rusia yang saat itu tidak memiliki hutang pada Rothschild, menolak ide tersebut. Sehingga rencana membentuk mata uang tunggal di Eropa gagal. Ia bersumpah untuk menghancurkan Tsar Rusia yang terwujud 102 tahun kemudian.
Tahun 1848, Rothschild membiayai Giuseppe Mazzini yang juga agen Illuminati untuk mendukung revolusi Italia. Pada tahun yang sama juga ia mendirikan zionisme melalui The Protocol of Zion. Ia juga membiayai Karl Marx yang merupakan anak Herchel Mordechai dan juga cucu sepupu istri Nathan Rothschild untuk membuat doktrin Komunis. Sebagian sumber menyebutkan bahwa tugas Karl Marx hanyalah membuat doktrin Komunis untuk menghasut kaum buruh dan proletar agar memberontak kepada Tsar Rusia. Tak peduli sistem komunis tersebut gagal atau tidak.
Dengan sistem komunisnya, Karl Marx mengiming-imingi buruh dan kaum proletar bahwa sistem komunis akan membawa kesejahteraan. Padahal kenyataannya nanti, sistem komunis lebih kejam dan terbukti hanya bertahan kurang dari 100 tahun dengan runtuhnya Uni Sovyet tahun 1989.
Karl Marx menulis dua buku yang menjadi rujukan standar orang-orang komunis. Buku tersebut adalah The Communist Manifesto yang ia tulis di Brussel, Belgia tahun 1848. Buku keduanya yang berjudul Das Kapital ia tulis di London pada tahun 1867. Ia sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di negara-negara yang kemudian disebut sebagai negara komunis.
Pada tanggal 7 November 1917, meletuslah Revolusi Bolshevik di Rusia. Sejak saat inilah komunisme diterapkan sebagai sebuah ideologi dan disebarkan ke seluruh dunia. Dari ideologi komunisme ini lahir para pemikir di antaranya Vladimir Ilyich Ulyanov atau dikenal sebagai Lenin yang kemudian mengembangkan ideologi tersebut. Maka paham komunisme disebut juga sebagai paham Marxisme-Leninisme.
Rothschild juga membiayai Mustafa Kemal Atatürk (1881 – 1938) salah seorang agennya. Kemal ditugaskan untuk menyusup ke dalam tubuh Khilafah Utsmani dengan misi meruntuhkan Khilafah Islam tersebut. In syaa Allah, materi konspirasi di balik runtuhnya Khilafah Utsmani akan dibahas pada episode lainnya.
Keluarga Rothschild yang semakin kaya belum juga puas. Ia mengirim agennya yang bernama Jacob Schiff ke Amerika pada tahun 1880. Ia ditugaskan untuk mendanai beberapa pengusaha-pengusaha di sana. Jacob dijuluki sebagai The God of Wall Street. Beberapa pengusaha yang ia biayai di antaranya:
1. Rockefeller (Standar Oil, Chevron, Chase Bank)
2. JP Morgan
3. Stillman (City Bank of New York)
4. Wells & Fargo
5. A. Carnegie (US Steel)
Dari kelima daftar di atas, yang paling dominan adalah Rockefeller dan JP Morgan.

Grand Design
Grand Design Rothschild dan Elite Global

Pada tahun 1907, muncullah chaos yang dikenal dengan Panic 1907. Setelah berkhirnya konsesi Second Bank of US pada tahun 1835, Amerika tidak memiliki bank sentral. Kewenangan mencetak uang dikelola oleh setiap daerah. Maka Jacob Schiff membuat isu dengan berpidato di konres yang isinya menyatakan bahwa “Jika tidak ada bank sentral, maka perekonomian Amerika akan runtuh”. Kemudian JP Morgan dan Rockefeller membuat isu seolah-olah ada bank yang kesulitan likuiditas. Mereka sangat mudah mempengaruhi rakyat Amerika pada saat itu karena mereka memiliki media-media cetak. Mereka gencar melakukan propaganda hingga rakyat Amerika percaya isu tersebut dan panik, “memang benar harus ada bank sentral”. Nelson Wilmarth Aldrich yang juga mertua Rockefeller ditunjuk sebagai ketua komite penyusunan UU Bank Sentral Amerika.
Lima tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 23 Desember 1913, undang-undang tersebut disahkan. Mereka melakukannya secara diam-diam, ketika kebanyakan anggota kongres sedang liburan menjelang natal. Undang-undang Bank Sentral Federal Reserve secara resmi ditanda-tangani oleh Presiden Woodrow Wilson. Undang-undang ini berdampak pada perpindahan kekuasaan sistem moneter dari pemerintah ke tangan beberapa orang terkaya di Amerika alias swasta. Tidak hanya itu, disahkannya undang-undang ini juga memberikan kekuasaan tak terbatas kepada beberapa institusi perbankan kaya di Amerika. Bayangkan, kewenangan mencetak uang disrahkan kepada swasta. Itu artinya setiap uang kertas yang mereka cetak adalah utang plus bunga yang harus dibayar negara kepada mereka. Tujuh bulan setelah pengesahan undang-undang tersebut disahkan, Perang Dunia I meletus. Negara membutuhkan uang untuk berperang. Kemana negara meminjam uang kalau bukan dari bank yang milik mereka juga?
Pada tahun 1920, warga Amerika sedang menikmati kemakmuran hasil dari propaganda Jacob Schiff dan kawan-kawan. Bank membuat seolah-olah ekonomi tumbuh. Padahal semua itu bisa dimanipulasi. Cetak uang, salurkan kredit kepada masyarakat, dan tetapkan suku bunga yang rendah. Rakyat Amerika tidak sadar bahwa bank bisa saja menghentikan aliran kredit dan menaikkan suku bunga kapan pun. Rakyat Amerika yang memiliki banyak uang, mereka menaruh uangnya di pasar modal. Memang dalam waktu 4 tahun, nilai saham mereka meningkat 400%. Namun, hal yang mengejutkan terjadi. Pagi hari tanggal 24 Oktober 1929, bank sentral ketatkan likuiditas sehingga suku bunga naik. Uang ditarik dari peredaran. Bisnis rakyat Amerika saat itu banyak yang bangkrut. Akibatnya dalam satu tahun 2,5 Juta orang kehilangan pekerjaan karena PHK masal. Bursa saham jatuh, kredit macet. Inilah peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Great Depression 1929.
“Krisis ekonomi kita ciptakan dengan menarik uang dari peredaran”(The Protocol of Zion, 1897)
Tahun 1933, Presiden Amerika saat itu, F.D. Roosevelt yang juga salah satu pentolan Illuminati, mengeluarkan Keppres (Keputusan Presiden) yang isinya adalah rakyat Amerika wajib menyerahkan emasnya kepada bank untuk menstabilkan kembali perekonomian. Tak tanggung-tanggung, keppres ini mengancam siapapun rakyat yang menyembunyikan atau tidak menyerahkan emasnya, akan diancam penjara selama 10 tahun. Pada tahun ini juga dicetaklah lembaran uang dollar yang baru, seperti yang kita kenal saat ini. Lembaran uang yang sarat akan makna pemujaan terhadap iblis –kebudayaan Freemason dan Illuminati. Emas yang dirampok dari rakyat ditimbun di bank, dilebur menjadi satu, lalu rakyat dibeirkan uang kertas yang sebenarnya tidak bernilai.
Setelah perekonomian Amerika beranjak stabil, meletuslah Perang Dunia II tahun 1941-1945. Perang ini adalah skenario mereka juga. Maka solusi dari penyelesaian Perang Dunia II, mereka melancarkan propaganda “Dunia butuh Badan Otoritas”. Maka pada 24 Oktober 1945, PBB pun resmi didirikan.

Konferensi Bretton Woods
Konferensi Bretton Woods

Sebelumnya, yakni di tahun 1944 diadakanlah Konferensi Bretton Woods. Konferensi tersebut diprakarsai Presiden Frankiln Delano Roosevelt untuk bersama-sama mengatasi segala kesulitan akibat Perang Dunia II dalam bentuk kerja sama internasional di bidang ekonomi. Sistem moneter internasional secara formal terbentuk dan melahirkan persetujuan-persetujuan untuk membentuk lembaga-lembaga keuangan multilateral yang mengenakan bunga. Dari konferensi ini, dibentuklah IMF, Bank Dunia dan IBRD pada 27 Desember 1945.
Persetujuan-persetujuan Bretton Woods ini memberikan enam implikasi terhadap sistem moneter internasional hingga saat ini, yaitu:
  1. Pasal-Pasal Persetujuan IMF melarang penggunaan emas sebagai uang. Hal itu dilakukan dengan melarang segala kaitan antara emas dengan berbagai macam mata uang selain daripada dengan dolar AS seperti yang tercantum dalam pasal 4, Bagian 2 (b) Pasal-Pasal Persetujuan IMF.
  2. Karena 70% stok emas dunia paska Perang Dunia II berada di tangan Amerika Serikat (AS), maka AS berani menentukan bahwa dolar AS sebagai mata uang internasional yang dikaitkan dengan emas. Hanya dolar AS yang dapat ditukarkan dengan emas dengan kurs 1 ounce (=28,35 gram) emas seharga 35 dolar AS.
  3. karena AS merupakan satu-satunya negara yang mengaitkan kembali mata uangnya dengan emas maka mereka dapat mencetak uang terus menerus tanpa batas.
  4. AS menikmati pendapatan yang besar dari percetakan mata uang dolar dengan hanya mengandalkan seigniorage, yaitu selisih biaya cetak dengan nilai nominal uang. AS kemudian mendapatkan keuntungan begitu banyak akan komoditi dari negara-negara yang menggunakan dolar dalam transaksinya.
  5. Seluruh negara anggota IMF diwajibkan untuk menaruh 25% cadangan emas miliknya di IMF dan melaporkan setiap penjualan dan pembelian emas yang mereka lakukan, seperti yang tercantum pada pasal XIII, Bagian 2 (b) dan pasal VIII, Bagian 5 (a, i-iv) Pasal-Pasal Persetujuan IMF.
  6. Hanya pemerintah, melalui bank sentral, Kementerian keuangan atau badan fiskal sejenis, yang dapat menukar dolar AS dengan emas, seperti yang tercantum pada pasal V, bagian 1 dan Pasal XIV, Bagian 2 (a) Pasal-Pasal Persetujuan IMF.
Pada tahun 2004, PM Malaysia, Mahathir Mohamad, melancarkan kritik bahwa sistem moneter yang berlaku sekarang ini adalah tidak adil. Untuk menghapus ketidakadilan tersebut, ia mengusulkan agar dunia kembali pada emas dan perak sebagai alat tukar.
Menurut Mahathir, ketidakadilan itu terjadi karena tiga hal.
  1. penggunaan uang kertas telah memerangkap dunia terhadap agenda Barat yang coba menguasai dunia dengan menggunakan sistem keuangan yang berat sebelah.
  2. Penggunaan uang kertas menyebabkan kegiatan jual beli mata uang yang mengakibatkan ketidakadilan dalam sistem keuangan dunia.
  3. Uang kertas tidak memiliki nilai intrinsik yang kemudian menyebabkan nilainya susut dengan kadar yang begitu besar.
Berdasarkan implikasi dan kritik di atas diperoleh berbagai kemungkinan alasan pelarangan penggunaan emas dan ketertarikan AS untuk mengetahui cadangan emas negara-negara di dunia adalah untuk:
  1. Mencegah kemungkinan emas digunakan sebagai uang yang dapat mengancam dan menyebabkan melelehnya sistem moneter fiat (uang kertas).
  2. Membuat negara-negara anggota IMF untuk terus meminjam kepada IMF yang pada akhirnya akan memberikan informasi strategis kepada IMF akan aset riil kekayaan mereka, dan membuka jalan bagi AS pada akhirnya dipercaya dengan menyimpan sebagian besar cadangan emas dunia.
Serupa dengan Great Depression 1929 di Amerika. Krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1998. Puncaknya di tahun 1999, Bank Indonesia (BI) dilepas dari Pemerintah RI, langsung di bawah IMF (International Monetary Fund). Tujuan utamanya adalah untuk mengatur sistem pertukaran moneter internasional. Secara khusus, salah satu tugas utama IMF adalah untuk mengendalikan fluktuasi nilai tukar mata uang dunia.
Gubernur BI tidak lagi bagian dari Kabinet RI, tidak akuntable (bertanggung jawab) kepada Pemerintah RI, apalagi kepada rakyat RI, dan bukan dibiayai dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). BI, sebagai Bank Sentral “disembunyikan” statusnya di balik Undang-undang sebagai “bagian dari negara”, tapi independen 100 %. Jadi, BI milik siapa? Ini menjadi misteri. Jika milik negara, seharusnya berupa BUMN, masuk APBN dan akuntable terhadap Pemerintah RI dan rakyat.
Ini adalah ikhtisar dari tindak-tanduk Rothschild, Illuminati, dan Para Elite Global yang tamak untuk menguasai dunia. Rinciannya seperti bagaimana bank (Satanic Finance) bekerja,  bagaimana skenario meruntuhkan Khilafah Utsmani, dan bagaimana propaganda mereka untuk memerangi Umat Islam, in syaa Allah akan saya bahas dalam episode terpisah.
Allaahu a’lam bish showaab
from . tauhiduna.id

Rabu, 03 Juni 2020

Cengkraman Kapitalisme Yahudi di planet Bumi

Kapitalisme dianggap mengubah tatanan ekonomi dunia dan dominan dikuasai oleh pemilik modal, maka lahirlah komunisme lewat Karl Marx sebagai antitesa. Namun ditengarai Marxisme juga sebetulnya disponsori oleh kelompok kapitalis Yahudi sebagai “sparring partner” dan alat kontrol. Jika sudah sangat mengganggu maka akan dihancurkan. Oleh sebab itu Uni Soviet ketika Mikhail Gorbachev menjadi presidennya (1991) diruntuhkan dengan skemaGlasnost andPerestroika. Seiring juga dengan runtuhnya tembok Berlin di Jerman Timur maka Jerman bersatu dan saat ini menjadi negara terkuat di Eropa.
Setelah hancurnya Uni Soviet, lalu muncullah Jerman sebagai negara utama di Uni Eropa, yang belakangan membuat Inggris keluar dari blok tersebut (Brexit), ini seperti bencana bagi kapitalisme Yahudi. Di Asia mereka terbentur dengan negara komunis Cina dengan skemaState Capitalismyang terkenal dengan ambigu ‘One State Two Systems’. Sistem politik tetap menggunakan komunisme tapi untuk sistem ekonomi menggunakan sistem kapitalisme.
Cina dianggap sebagai negara sosialis yang dapat beradaptasi, memanfaatkan situasi, membangun negaranya dan berjaya sebagai negara terbesar dalam perdagangan dunia, serta memiliki GDP (Gross Domestic Product/Produk Domestik Bruto) terbesar, mencapai Rp 28.000 triliun melampaui negara pengekspor kapitalisasi, yakni Amerika Serikat (AS).
Cengkeramankapitalisme Yahudi
Resesi ekonomi AS pada tahun 2008 yang merembet ke Eropa, Asia, dan belahan bumi lain yang terkait dengan ‘Sistem Keuangan Global’. KrisisSubprime Mortgageditandai dengan bangkrutnya salah satu soko guru kapitalisme global, Lehman Brothers. Kita tahu bahwa Lehman Brothers bersama Goldman Sachs, JP Morgan Chase, Deutsche Bank, Citibank sebagai soko guru kapitalisme “gank The Fed” yang dipimpin AS.
Gerakan Yahudi Global dimulai tahun 1776, dengan gerakan illuminati, yakni disepakatinya oleh elite Yahudi dunia akan berkuasa di pentas global. Dimulai dengan mensponsori Revolusi Perancis 1709, Revolusi Rusia yang berujung dengan lahirnya komunisme sebagai keseimbangan untuk kapitalisme (1907) dan lahirnya AS sebagai lokomotif Yahudi.
Isu kesetaraan ditiupkan agar hierarki agama, sosial, dan feodalisme digerus dan kerajaan diganti dengan sistem demokrasi.
Lalu, lahirlah Protokol Zion 1842 dengan skema negara bangsa Yahudi dengan menganeksasi teritorial Palestina agar Israel muncul sebagai suatu negara. Pada era Protokol Zion lahirlahAristocracy of Money. Uang menjadi tuhan dalam kehidupan sekularisme.
Soros sebagai generasi Yahudi berikutnya menyempurnakannya melalui bukunya “One Global One Government”, mempopulerkanOne State One Societykarena negara sudah tidak ada lagi demarkasi batas negara, melalui modal (kapitalisme).
Aristocracy of Moneydimulai dengan lahirnya Federal Reserve (The Fed) yang dimiliki pemegang saham yang mengatur sistem moneter dunia. Untuk menancapkan kukunya yang tajam pada negara berkembang yang kaya sumber daya alam (SDA) dalam konteksEnergy and Food Security,dikendalikan melalui lembaga donor yang berutang pada IMF (International Fund Monertary) dan Bank Dunia sebagai jaringan pengendali negara berkembang, termasuk Indonesia.
Negara berkembang dijebak melalui utang sehingga tidak bisa independen dalam hal orientasi dan kebijakan pembangunannya. Contoh ekstrem adalah Indonesia di era Soeharto yang ingin lepas landas dan melunasi utang pada tahun 1992 (periode ke-2 pembangunan jangka panjang 25 tahun), dijatuhkan dengancurrency war(perang mata uang asing) di tahun 1997, dan setahun kemudian Soeharto jatuh oleh IMF (International Monetary Fund/Dana Moneter Internasional) dan Bank Dunia dengan strategi ‘bail-out’ yang dikenal dengan BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) negara Indonesia terikat dengan skema AS (Yahudi). Demokrasi dijadikan alat menghasut rakyat untuk menyerang pemerintah yang dianggap otoriter.
Memudarnyakapitalisme Yahudi
Kapitalisme mengakuisisi sistem demokrasi karena tidak mempunyai “sparring partner” yang sepadan setelah Uni Soviet dan Jerman Timur rontok sebagai negara adikuasa. Keangkuhan para kapitalis membuatnya lengah dan terjadilah kebangkrutan ekonomi AS pada tahun 2008.
Keseimbangan datang dari Tuhan dengan lahirnyaState CapitalismCina sebagai pengimbang kapitalisme global.
Di saat AS ingin menguasai kembali perdagangan dunia, seperti ambisi Donald Trump, ternyata justru menghancurkan hegemoni AS sendiri, khususnya kapitalisme Yahudi. Tanpa disadari Rusia yang awalnya jadi partner AS sesuai rencana Trump, justru keterlibatan Rusia pada Pilpres AS tahun 2016 terbuka menjadi skandal, sehingga Rusia marah dan kembali menjadi musuh utama AS.
Sanksi ekonomi untuk Rusia dari Kongres AS membuat Presiden Rusia Vladimir Putin marah dengan mengusir ratusan diplomat AS di Rusia, AS membalasnya dengan hal yang sama serta menjatuhkan sanksi baru atas Rusia.
Dalam kampanye Pilpres 2016, Trump terang-terangan menyerang Cina sebagai seterunya, dan akan memenangkan perang dingin nantinya (proxy warAS versus Cina).
Faktanya, keberadaan Cina didukung negara-negara G20 di luar AS, menjadi batu sandungan sebagai seteru utama Yahudi. Trauma era Hittler dengan negara Jerman yang membantai (genocide) Yahudi di era Perang Dunia I dan Perang Dunia II.
Persekutuan Cina, Rusia, dan Jerman adalah persekutuan taktis melawan Yahudi (AS dan Inggris). Anehnya, Inggris malah mendukung skemaOne Belt One Road(OBOR) Cina dan terlibat dengan pembangunan pipa migas ke Timur Tengah.
Soko guru Yahudi seperti Rothschild (berasal dari Jerman berdomisili di Inggris) dengan kekayaan korporasinya yang mencapai USD 1 triliun sejak tahun 1760-an adalah keluarga Yahudi asal Jerman, pemilik Deutsche bank dan beberapa kerajaan keuangan dunia. Rothschild di Indonesia berpartner dengan Bakrie Bumi Resources (yang berujung konflik di peradilan niaga Singapura) adalah raksasa soko guru Yahudi.
Soko guru berikutnya keluarga Rockefeller, pemilik raksasa keuangan dunia JP Morgan Chase dan beberapa lembaga keuangan termasuk salah satu pemegang saham The Fed, Bank Sentral AS yang sahamnya dimiliki 12 konglomerat Yahudi. Rockefeller adalah raja minyak dunia (Texaco, Caltex, dan Exxon Mobile) menjadi kekuatan Yahudi yang terorganisir dan juga merupakan menantu JP. Morgan.
Rockefeller bersama Rothschild, JP. Morgan Jr dan Ford, pada tahun 1973 mendirikan trilateral lanjutan skema Protokol Zion dan pertemuan Bilderberg Internationalupper class(kelas atas) bersatu dari AS, Eropa dan Jepang. Trilateral mensponsori kepala-kepala negara di AS, Eropa, dan Jepang dengan syarat The Global Financial Interest harus dilindungi.
Jadi, era transaksional dimana kapitalisme mengakuisisi demokrasi akarnya ada di sini, dan Indonesia menerapkannya lewat deregulasi Undang-Undang Politik (1998–2002) yang juga disponsori oleh kapitalisme global senilai USD 35 juta sebagai bagian reformasi (deregulasi).
Tahun 1973 Rockefeller mengundang 200 top bankir, businessman, politisi dan pemimpin serikat kerja negara berkonsolidasi untuk kelanggengan kerajaan keuangan global. Di antara pesertanya ada Jimmy Carter yang pada Pilpres AS tahun 1976 terpilih menjadi Presiden AS yang dinilai jujur dan merakyat. Jadi, isu populisme pertama diterapkan Yahudi pada saat terpilihnya Jimmy Carter menjadi Presiden AS; sedangkan Donald Trump adalah yang kesekian kalinya.
Dengan misi menjaga perdamaian dunia, AS sebagai polisi dunia mengatur ekonomi dunia dengan Federal Reserve sebagai pengatur, dan IMF/Bank Dunia sebagai operator untuk negara berkembang dan perbankan milik Yahudi seperti JP Morgan Chase, Goldman Sachs, Citibank dan Deutsche bank sebagai operator di setiap negara yang menjadi target mereka.
Strategi mereka dilakukan dengan globalisasi melalui pasar saham dan uang untuk pengendalian   dunia.Skema keuangan dunia melalui saham dan mata uang juga bisa dijadikan alat penekanan pada suatu negara yang tidak patuh pada sistem keuangan global. Namun skema saham dan mata uang ini juga yang membuat menjadi rentan menyebabkan VUCA (Volatility/Kesementaraan,Uncertainty/Ketidakpastian,Complexity,Ambiguity) terjadi pada fenomena perlambatan ekonomi global dan membuat ketidakpastian dalam ekonomi global, kegagalan AS pada tahun 2008 telah menjadi pelajaran berharga bagi AS.
Tercatat nama-namaCarl Icahn(Ichan Enterprises – pengusaha Yahudi generasi baru) adalah salah satu pengusaha Yahudi di sekitar Trump sebagai Koordinator Staf Khusus,Rex Tillersoneksekutif di Exxon Mobile yang juga sahabat Vladimir Putin. Di AS, saat ini soko guru Yahudi adalah keluarga Icahn, dengan kekayaan mencapai USD 86 miliar, berikutnya keluarga Walton yang memiliki Walmart riel terbesar di AS dengan kekayaan USD 144 miliar. Lalu ada nama Keluarga Rupert raja anggur dunia yang juga berpartner dengan Rothschild, pemilik brand Dunhill, Mont Blanc, dan Cartier. Ada pula Rupert Murdoch, raja pers dunia yang menjadikan AS sebagai operator opini publik dunia.
Tercatat juga nama keluargaCargillsebagai raja pangan dunia, dengan kekayaan USD 490 miliar, yang berdiri sejak tahun 1865. Lalu menyusul Warren Buffett (USD 60,8 miliar), Jeff Bezos (USD 45,2 miliar), dan beberapa nama lainnya. Dapat dikatakan bahwa pengusaha Yahudi masih menguasai bisnis dunia baik di keuangan, pertambangan, mineral, pers, dan migas, serta pangan dunia.
Kita mengetahui bahwa konteks geo-ekonomi dunia dikuatkan oleh dua isu utama, yakniEnergy Security(ketahanan energi) danFood Security(ketahanan pangan) yang konon akan langka di tahun 2030 nanti.
Kapitalisme Yahudi memudar karena mulai dikritisi di AS pada tahun 2008 yang ditandai dengan runtuhnya Lehman Brothers dan goncangnya Goldman Sachs dan JP Morgan Chase. Situasi kemudian diperburuk dengan kehadiran Donald Trump yang menghancurkan pohon populisme sebagai pengimbang demokrasi, dunia menyadari kapitalisme telah membajak demokrasi di seluruh dunia. Kapitalisme global Yahudi sering menjadi sasaran saat demonstrasi, khususnya brand-brand AS di segala lini. Warren Buffett sebagai salah satu Yahudi terkaya menjadi pendukung utama pengkritik Trump, sehingga Yahudi yang di partai Demokrat menentang kebijakan Trump yang sangat tidak populis.
Dunia memahami kapitalisme Yahudi dengan operator Multinational Corp. sebagai operator saat ini mulai disaingi korporasi dari China’s Overseas, seperti Li Ka-shing (Cina–Taiwan), Robert Kuok (Malaysia), Anthony Salim (Indonesia), Michael Hartono dan Budi Hartono (Indonesia), Samsung, dan LG (Korea), khususnya dominasi beberapa sektor perdagangan Asia, dan tentu Jepang di industri otomotif dan elektronik.
Begitu juga di Eropa, mereka dapat saingan dari korporasi Jerman dan Perancis. Sementara Afrika praktis dikuasai Cina. Rusia tetap mendominasi di Eropa Timur, sehingga Proxy War AS vs Cina dibantu Rusia dan Jerman saat ini menjadi seimbang.
AS pasti memainkan politik dalam konteks geo-strategi dengan basis pertahanan, kita mengetahui untuk industri pertahanan sangat sulit menyaingi Paman Sam saat ini.
Konflik di Semenanjung Korea merupakan bagian dari upaya AS dalam menekan Cina agar mencegah Korea Utara dalam hal nuklir, dan ini dijadikan alasan penyatuan Korea. Selain itu, Kepulauan Spratly adalah posisi strategis perdagangan dunia dan kaya migas, akan diperebutkan oleh Cina dan Jepang bersama AS. Konon deposit migasnya No. 4 terbesar di dunia, yakni 17,7 miliar barrel.
Jika di perdagangan sulit menaklukkan Cina, tentu dengan geo-strategis AS pasti unggul, kecuali Cina bersatu dengan Rusia, namun sulit untuk memperoleh momentum dalam konflik di Semenanjung Korea
Bagi Indonesia, harus cerdas melihat Proxy War AS vs Cina, sebagai pionir negara non-Blok seharusnya jangan memihak, justru harus dapat mengoptimalkan pemanfaatannya untuk Indonesia. Jangan justru menjadi proxy salah satu kekuatan karena posisi geo-strategis Indonesia dalam perdagangan dunia dan potensi sumber daya alam yang menjadi magnitude AS dengan Cina.
Posisi Pelabuhan Sabang (Aceh), Belawan (Medan), dan Batam (Kepulauan Riau) jika dilakukan penyesuaian standar internasional tentu Singapura akan merasa tersaingi. Seperti kehadiran Perdana Menteri Inggris pada awal Pemerintahan Joko Widodo, yang datang secara mendadak karena khawatir dengan pernyataan Presiden Joko Widodo mengenai Indonesia Poros Maritim, ketika menghadiri Forum Ekonomi Dunia (November 2014), mengingatkan agar jangan membangun pelabuhan Belawan. Kita juga ingat, di era 1970-an bahwa AS meminta agar Sabang sebagai pelabuhan bebas ditutup, diganti dengan skema Batam sebagai Otorita. Faktanya, Batam hanya menjadi tempat “pembuangan” industri dari Singapura.
Kekhawatiran Yahudi terhadap posisi strategis Indonesia menjadi rebutan AS dan Cina, sehinggaproxy wardilakukan dengan berbagai cara

Senin, 25 November 2019

Trias Koruptika

Keberadaan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai representasi publik semakin bergerak mendekati titik nol dalam mengaktualisasi keinginan dan kepentingan publik. Indikasinya sudah semakin tampak. Tak lama setelah karut marut pembahasan RUU Pemilu, hak angket terhadap kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga terakhir yang membuat gaduh adalah Rebisi UU KPK .banyaknya anggota DPR yang tersangkut megakorupsi, Parlemen Indonesia kembali memberikan kejutan tanpa basa basi dengan menggulirkan wacana pembangunan apartemen dan gedung baru bagi anggota DPR.Kejutan ini muncul bersamaan dengan naiknya pagu anggaran DPR untuk tahun anggaran 2018 menjadi Rp 5,7 triliun dari Rp 4,3 triliun pada tahun 2017. Tak tanggung-tanggung Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR dengan tanpa rasa malu mengusulkan supaya anggaran di internal DPR naik hingga Rp 7,2 triliun.
Uang rakyat sebesar itu seolah hanya dianggarkan, dikelola, dan dipertanggungjawabkan secara pribadi oleh anggota DPR seperti mereka mengelola anggaran perusahaan pribadi. Mereka seakan amnesia dan tidak sadar diri dalam memberikan usulan kenaikan anggaran sebanyak itu tanpa melihat kondisi pekonomian negara.
Sementara publik tahu bahwa langkah DPR menaikkan anggaran untuk pembangunan gedung baru dan apartemen tersebut tidak sebanding dengan kredibilitas kinerja yang dilakukan oleh DPR pada periode 2014-2019 ini. Terlebih banyak kalangan menilai bahwa DPR periode ini adalah periode dengan prestise kinerja terburuk dan sarat akan konflik jika dibandingkan dengan kinerja anggota parlemen sebelumnya.
Paling tidak kecenderungan ini dapat diamati dari pelbagai persoalan hukum yang menyangkut bobroknya kinerja DPR sampai saat ini. Dalam kajian hukum tata negara, kita mengenal 3 (tiga) fungsi DPR yang ditasbihkan dalam konstitusi: fungsi legislasi, fungsi pengawasan, dan fungsi anggaran.
Tentu saja tiga fungsi ini sudah diketahui setiap anggota DPR. Akan tetapi tidak terimplementasi secara baik dan efektif. Jujur harus diakui, jika kita melihat kinerja DPR di bidang legislasi hari ini, sesungguhnya sangat jauh dari harapan dan cenderung semakin merosot. 
Pertanyaan, apakah masih rasional DPR yang sudah memiliki gedung yang super mewah dan rumah dinas yang hanya digunakan 25% oleh anggota DPR, ingin membangun infrastruktur baru dengan triliunan uang negara di tengah potret buruk kinerja DPR di bidang legislasi?
Sebelum mengusulkan pembangunan gedung baru dan apartemen, para anggota DPR seharusnya membangun dulu kepercayaan dan integritas mereka terhadap publik. Dengan begitu, publik sebagai konstituen mengetahui seberapa jauh hal yang sudah dilakukan DPR dalam rangka memberikan kesejahteraan kepada masyarakat.
Tidak hanya itu, di tengah makin anjloknya kinerja anggota DPR di bidang legislasi, dalam menjalankan fungsi anggaran pun mereka menuai banyak masalah. Terbongkarnya praktik haram mafia anggaran, transaksi gelap sebelum pengetokan persetujuan anggaran (red : kasus KTP-elektronik), hingga pembocoran keuangan negara dalam jumlah sangat besar di internal DPR membuktikan bahwa fungsi anggaran dan hak begrooting yang diamanatkan konstitusi kepada DPR tidak dijalankan dan mereka terkesan sudah mengkhianati konstitusi.
Maka, tidak heran ketika survei Global Corruption Barometer (GCB) yang diluncurkan oleh Transparency International Indonesia (TII) menempatkan DPR pada posisi lembaga paling korup dari pelbagai lembaga negara yang ada. Artinya, julukan “Trias Koruptika” oleh Todung Mulya Lubis sudah sangat pas disematkan kepada lembaga terhormat seperti DPR. Semestinya perilaku tidak terpuji ini tidak perlu terjadi, jika 560 anggota DPR tersebut memahami bahwa anggota DPR yang sudah disumpah merupakan corong aspirasi masyarakat di setiap daerah pemilihannya.
Terlepas dari potret usang kinerja DPR dalam beberapa tahun terakhir ini, wacana kenaikan anggaran DPR untuk pembangunan gedung baru dan apartemen DPR sudah saatnya dikubur dalam-dalam dan tak akan mungkin direalisasikan. Jika kita melihat dalam perspektif keuangan negara, kondisi APBN tahun 2017 ini sudah mengalami defisit anggaran mendekati 3% dengan persentase 2,67% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan nilai defisit sebesar Rp 397,2 triliun.
Karenanya, jika ternyata defisit anggaran sudah melebihi batas demarkasi sebesar 3% dari PDB, pemerintah dianggap melanggar ketentuan Penjelasan Pasal 17 ayat (3) UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Defisit ini tentu sewaktu-waktu akan mengalami kenaikan jika Kementerian/Lembaga masih melakukan upaya pemborosan terhadap keuangan negara yang hanya bersifat mubazir seperti menaikkan anggaran internal DPR menjadi Rp 5,7 triliun untuk pembangunan gedung baru. Karena itu, penghematan anggaran harus tetap dilakukan, apalagi untuk hal-hal yang tidak urgen.
Selain itu, DPR harus dikembalikan kepada khittahnya yaitu menjalankan kekuasaan legislatif secara sempurna, tidak setengah hati bekerja untuk mewakilkan 250 juta masyarakat indonesia.
DPR seharusnya fokus melakukan pembenahan baik dari segi individu anggota DPR maupun terhadap organ DPR tersebut dalam menjalankan ketiga fungsi yang dimandatkan konstitusi. Anggaran sebesar itu alangkah baiknya dialokasikan kepada sektor-sektor yang lebih membutuhkan sokongan dana seperti pendidikan, kesehatan, dan sosial.
Selain itu, triliunan anggaran tersebut setidaknya juga dapat menutup keran defisit anggaran negara yang sudah semakin besar. Karena itu, berangkat dari kondisi yang ada, sejatinya publik menolak kenaikan anggaran DPR yang bernilai triliunan tersebut untuk membangun gedung baru dan apartemen di lingkungan DPR.
Sebagai Kepala Pemerintahan, Presiden Joko Widodo  diharapkan tidak menyetujui kenaikan anggaran DPR. sebagai alarm, Presiden pernah mengeluarkan kebijakan pada tahun 2016 yang menegaskan bahwa Presiden tetap melanjutkan moratorium pembangunan sarana dan prasarana pemerintah dan pembelian lahan, terkecuali sarana dan prasarana di bidang pendidikan. Dengan demikian, DPR tidak perlu bersikukuh untuk membangun gedung baru, sementara itu gedung saat ini masih amat layak digunakan.
Di atas segalanya, DPR mesti melakukan pembenahan terstruktur secara keseluruhan dengan cara membangun integritas dan kepercayaan terhadap publik sebagai konstituennya sebelum membangun pondasi-pondasi gedung DPR yang dianggap miring 7 derajat tersebut. (geotimes) selain pemborosan dan kesewenang wenangan DPR dalam memperlakukan uang rakyat Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) menyatakan masih banyak pemborosan atau inefisiensi Anggaran pada program-program di kementerian/lembaga, pemerintah pusat dan daerah. Masalah efektivitas penggunaan anggaran atau belanja negara kembali mendapat sorotan. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kementerian PAN-RB) telah melakukan kajian. Temuannya adalah terjadi pemborosan yang luar biasa. Angkanya mencapai Rp 392,87 triliun. ada sejumlah penyebab sampai terjadi pemborosan anggaran negara yang begitu besar. Diantaranya adalah program atau kegiatan yang tidak jelas capaiannya. Kemudian program yang ukuran kinerjanya tidak jelas. Lalu dipicu tidak adanya keterkaitan antara program kegiatan dengan sasaran pembangunan nasional. Kemudian ada juga kegiatan tidak sesuai dengan tujuannya.
’’Misalnya studi banding,’’ . Dari sisi laporan keuangannya benar telah belangsung perjalanan dinas. Tetapi dari sisi manfaat yang dihasilkan, tidak bisa dipaparkan dengan baik. Maka telah terjadi pemborosan anggaran keuangan negara. Contoh berikutnya adalah banyaknya kegiatan seremonial berupa rapat-rapat untuk program yang teknis. Misalnya program teknis terkait pengentasan kemiskinan. anggaran untuk menggelar rapat-rata bisa jadi menyamai atau lebih besar dari anggaran untuk program pengentasan kemiskinannya. sebaiknya masing-masing instansi membuat program kerja serta aneka kegiatan pendukungnya secara cermat. Kemudian juga mengutamakan kesesuaian serta manfaat yang didapatkan publik. Hasil pengukuran indeks akuntabilitas kinerja pemerintah 2016 belum ada satupun instansi yang mendapatkan skor AA (90-100 poin). Sebaliknya ada 200 lebih instansi pemerintah pusat maupun daerah yang mendapatkan nilai CC (50 – 60 poin) serta C (30 – 50 poin). pengukuran tahun ini menunjukkan perbaikan. Sehingga potensi pemborosan anggaran negara bisa ditekan. potensi pemborosan bisa ditekan sampai 50 persen,’’ Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan anggaran negara diperuntukkan untuk memuaskan masyarakat. ’’Bukan untuk memuaskan PNS,’’ selama ini banyak anggaran PNS yang tersedot untuk membayar gaji, tunjangan, serta perjalanan dinas PNS. Dari total APBN yang senilai Rp 2.080 triliun, anggaran pegawai dan operasional mencapai Rp 1.513 triliun.  Ini menunjukkan porsi belanja pegawai untuk gaji, tunjangan, dan sejenisnya menyedot seperempat anggaran pemerintah pusat. Kondisi di daerah lebih gila lagi ada 131 instansi pemerintah daerah yang anggaran belanja pegawainya lebih dari separuh. ’’Apakah tidak ada cara yang lebih baik untuk membelanjakan APBD. alangkah baiknya untuk ke depan bangsa ini tidak lagi memanjakan orang-orang malas yang cenderung koruptif dan kolutif.

Minggu, 17 Maret 2019

Simulasi Perang Asia Pasifik

Bayangkannlah bahwa situasi Indonesia dalam dunia simulasi perang ini tidak jauh beda dengan pemerintahan saat ini. Rupiah melemah, rezim yang lebih condong ke Cina, kerjasama dengan Rusia sudah semakin intens, kerjasama gabungan dengan Korea dalam membuat kapal selam, serta kedekatan Indonesia kepada Amerika. Indonesia, katakanlah sudah mampu memuat MBT (Main Battle Tank) yang dianggap Barat sebagai sebuah kekuatan sekaligus ancaman baru, terutama di kawasan Asia Tenggara, serta kawasan Asia secara umum. Rusia mulai mendukung kedaulatan Alutsista Indonesia sedangkan Iran sangat gembira dengan Indonesia dan melihat lebih jauh apakah mereka dapat bekerjasama lebih dalam mengingat Indonesia menjadi negara militer terkuat di kawasan Asia.
Cina pun lebih gencar menggempur pasar Indonesia melalui investasi infrastruktur mereka, di sisi lain, Cina banyak menawarkan kerjasama pembelian senjata dari Cina ke Indonesia, namun sayangnya ditolak Indonesia secara halus karena saat ini Indonesia sudah berdaulat dalam hal kemandirian Alutsista. Kebijakan non-Blok Indonesia membuat negara-negara Dunia Pertama (First World Countries) berlomba-lomba mendekatkan diri mereka ke Indonesia, terlibat dalam investasi baik dalam pembangunan dan infrastruktur, serta kerjasama ekspor-impor lainnya yang terjadi antara Indonesia dan negara-negara baik Blok Barat dan Timur.
Katakanlah bahwa kekuatan militer Indonesia dalam dunia simulasi perang ini sudah masuk ke dalam 10 besar kekuatan militer dunia, yakni di urutan 9 dunia mengalahkan Jepang yang berada di urutan 10, Turki di urutan 11 dan Israel di urutan 12. Sedangkan berdiri di atas Indonesia adalah Korea Selatan yang berada di urutan 7 dunia sedangkan Jerman tepat di atas Indonesia dengan berdiri di urutan 8 negara militer terkuat dunia. Negara-negara blok Barat mulai ketakutan terhadap Indonesia karena semakin hari kekuatan Indonesia semakin mengkhawatirkan. Sejumlah pengamat militer Barat dan pejabat senior Amerika seringkali mengikuti perkembangan militer Indonesia sejauh ini. Barat juga percaya bahwa ada kerjasama tersembunyi antara Indonesia dan Iran terkait dengan kerjasama pengembangan uranium dan fasilitas nuklir.
Meskipun demikian, semua itu ditampik mentah-mentah oleh Presiden Indonesia dan sejumlah pejabat pemerintahan terkait. Bahkan DPR mulai menuduh bahwa Amerika mulai memancing di air keruh, mulai melakukan propaganda mereka dengan isu bahwa Indonesia diam-diam mengembangkan fasilitas nuklir dengan Iran yang dinilai sebagai suatu ancaman yang membahayakan di kawasan Asia Tenggara. 
Katakanlah bahwa dunia simulasi ini terjadi di tahun 2020.
Situasi di dunia Internasional mendadak heboh karena terjadi penembakan terhadap pesawat F16 Singapura yang dilakukan TNI Angkatan Udara. Militer Indonesia berdalih bahwa Singapura melanggar batas wilayah yang ditentukan mengingat wilayah Singapura yang sangat kecil yang berimbas pada sempitnya wilayah udara yang mereka miliki. Singapura pun geram, mencoba memancing air panas dengan membawa kasus ini ke dalam sidang PBB. Amerika tidak merespon, mencoba menganalisis apa yang sebenarnya terjadi. Amerika tidak gegabah dalam bertindak, serta belum menyatakan secara resmi apakah Indonesia bersalah atau tidak.
Panglima tinggi AU Indonesia berkali-kali mencoba menjelaskan bahwa Singapura melanggar batas wilayah udara Indonesia dengan menerbangkan pesawat F16 mereka, dan media-media di Indonesia mulai mendukung TNI AU dan menyalahkan Singapura atas kejadian pelanggaran batas tersebut. Namun media Barat berkata lain. Media-media Barat memandang bahwa apa yang Indonesia lakukan adalah suatu hal yang memalukan dan penembakan pesawat Singapura merupakan sebuah penghinaan terhadap Singapura. Dunia Internasional lalu dihebohkan dengan berita yang terus-menerus menayangkan headline yang intinya mengecam perilaku buruk AU Indonesia. 
Singapura cepat merespon, Singapura tidak memandang remeh Indonesia, namun lebih melihat Indonesia sebagai musuh di kawasan Asia Tenggara yang membahayakan, bukan memandang Indonesia sebagai teman. Singapura dalam beberapa hari memperingatkan warganya agar segera kembali ke negaranya dan menyiapkan status Darurat dengan memasang sistem pertahanan anti-udara Singapura. Namun Indonesia sudah bisa mencium sikap paranoid tersebut dan memandang bahwa Singapura sudah dalam tahap siap siaga jika sewaktu-waktu perang meletus. Sedangkan media-media di Australia, seperti biasa, hanya memberitakan yang buruk mengenai Indonesia dan penembakan AU Indonesia terhadap pesawat Singapura. Indonesia dalam minggu-minggu pertama kecaman dunia mencoba untuk tenang dan tidak terprovokasi propaganda media-media Barat. Berkali-kali Panglima TNI diundang ke Istana Presiden untuk membahas diskusi mengenai masalah sensitif ini. 
Amerika dengan aset paling berharga mereka, CIA, mulai bersiap-siap masuk menginfiltrasi Indonesia seperti apa yang pernah mereka lakukan dalam menggulingkan Soekarno dan mengadu domba antara paham nasionalis dan komunis di Indonesia. CIA dalam hal ini sangat berpengalaman dan tidak dapat dianggap remeh. Suatu saat CIA dapat mengadu-domba kembali antara nasionalis dan komunis, bahkan mengadu domba gerakan Islam radikal dan gerakan liberal Islam, semua itu mungkin saja bagi CIA mengingat mereka ahli dalam melakukan covert-op seperti itu. Ditambah lagi dengan isu Papua yang ingin lepas dari NKRI, tentu saja Australia dan Amerika harus secara cerdik memainkan "Kartu AS" untuk menjatuhkan martabat Indonesia melalui guncangan isu pemberontakan milisi lokal Papua. 
Dalam akhir bulan pertama Presiden Indonesia mulai melihat gelagat mencurigakan dari Malaysia. Beberapa armada Inggris diam-diam tiba di Malaysia di Kota Kinabalu dan Kota Baharu. Indonesia memandang bahwa pengerahan armada Royal Navy tersebut berkaitan dengan isu konflik yang memanas antara Singapura-Indonesia. Dalam 2x24 jam, TNI merespon dengan menyiapkan sejumlah Batalyon dari Jawa ke sejumlah lokasi vital di Kalimantan dan Sumatra. Setidaknya TNI mengirim 8.000 pasukan reguler ke lokasi-lokasi tersebut, terutama di wilayah Kalimantan Utara. 
Indonesia mengancam Inggris jika Armada AL mereka tidak pergi dari Malaysia serta adanya suatu penambahan pasukan dari Inggris, Indonesia tidak segan-segan akan mengusir Inggris dari Malaysia. Ultimatum Indonesia itu dianggap sebagai omong kosong, Inggris tidak pernah takut terhadap Indonesia. Inggris juga mengatakan bahwa penempatan Armada AL mereka tidak berkaitan dengan konflik Singapura-Indonesia. Namun Indonesia tidak percaya begitu saja dan mencoba mengungkit-ungkit kembali konflik antara Kopassus dan SAS yang pernah terjadi di belantara Malaysia-Indonesia dalam Operasi Ganyang Malaysia di era Soekarno. Inggris pun geram, dengan mengatakan bahwa Pasukan khusus SAS mereka lebih baik dari Kopassus, Inggris malah berkoar-koar di media bahwa Kopassus adalah mesin pembunuh warga sipil nomor satu didunia dan banyak dari pasukan khusus itu merupakan orang-orang yang senang sekali melanggar HAM, Inggris juga tidak lupa untuk mengungkit-ungkit masalah Papua, dengan harapan agar bola panas di media ini menjadi kontroversi Internasional dan merupakan usaha Inggris untuk mencoreng citra Kopassus di mata dunia. 
Di kawasan yang lebih jauh, Cina masih bungkam dan tidak terburu-buru memihak Indonesia. Berhubung Cina hanya memandang Indonesia sebagai mitra kerja dalam bidang ekonomi dan investasi, hanya sekedar mitra kerja dan bukan sekutu militer terdekat Cina. Sedangkan Rusia mendukung Indonesia dan mengatakan bahwa Indonesia berhak menembak pesawat apapun (terutama pesawat militer) yang terbang di atas wilayah udara Indonesia. Sedangkan Iran bersimpati terhadap Indonesia dan mengatakan bahwa muslim Indonesia harus bersatu melawan kapitalis dan negara-negara Barat.
Korea Utara mendukung Indonesia dengan asumsi bahwa Singapura dianggap Korea Utara sebagai anak kesayangan Amerika dan merupakan negara kecil dimana orang-orang Barat yang kaya raya berfoya-foya disana. Korea Utara lebih bersimpati dengan Indonesia bukan dikarenakan kedekatan dengan Indonesia, tetapi Korut lebih memandang bahwa Indonesia sebagai kekuatan yang kuat di kawasan Asia Tenggara yang menguntungkan Korea Utara jika Korut mendukung Indonesia. Dengan asumsi bahwa Perang Korut-Korsel meletus, dan karena Korut pernah membantu Indonesia, maka dipastikan Indonesia akan membantu Korut. 
Namun kaum nasionalis di Indonesia serta orang-orang anti-komunis melihat bahwa dukungan Korea Utara bisa membuat Indonesia kembali dirangkul oleh komunis. Suatu saat kaum nasionalis dan anti-komunis melihat bahwa nantinya paham komunis akan kembali bangkit. Sebagian masyarakat Indonesia tidak menginginkan dukungan negara komunis seperti Korea Utara, yang nantinya dikhawatirkan akan menjadi perpecahan kembali di masa silam antara nasionalis dan komunis (terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang salah). 
Di Australia, di kota-kota besar seperti Darwin, Cairns, Brisbane, Perth, Melbourne, Canberra, serta di Sydney sendiri semuanya waspada. Pergerakan militer mulai terlihat di kota-kota besar Australia. Hal tersebut menarik kecurigaan Indonesia mengingat ada pergerakan alutsista serta pengalokasian nya ke kota-kota besar tersebut. Ditambah lagi dengan basis-basis militer Amerika di Australia yang semakin intens pesawat-pesawat AS dan Australia melaksanakan operasi simulasi perang di atas wilayah udara Australia. Indonesia mulai melihat bahwa Australia ingin masuk ke kancah perang dengan Indonesia, dengan terlebih dahulu memandang bahwa Papua menjadi lokasi permainan perang terbatas dan propaganda yang strategis bagi Australia.
Australia melihat Papua sebagai pintu masuk atau gerbang utama Australia dalam usaha memainkan propaganda serta membangkitkan gerakan pemberontakan milisi Papua sebagai bagian usaha melepaskan diri dari NKRI. Sekitar 10.000 Pasukan baik dari tentara reguler maupun marinir dari Jawa segera dikirim ke Papua dan Papua Barat dalam rangka mengantisipasi adanya pemberontakan makar di Papua. Indonesia juga mengalokasikan banyak prajuritnya di pos-pos perbatasan Papua-PNG, serta menjaga ketat PT. Freeport dengan menempatkan sekitar 200 tentara. 
Memasuki bulan kedua konflik, tampaknya bola panas beralih ke kawasan Selatan Indonesia dan Australia. Indonesia-Australia berlomba-lomba menerapkan suatu strategi terbatas dimana kedua belah pihak masih menerka-nerka apa yang sebenarnya dilakukan kedua negara. Beberapa hari kemudian Australia dan Amerika mengirimkan pasukan mereka ke Dili, Timor Timur, sebagai basis pertahanan mereka. Sebanyak 3000 tentara Aussi dan 600 Tentara Paman Sam tentu saja menjadikan Timtim sebagai basis utama pasukan mereka yang nantinya akan digunakan untuk menyeberang ke Indonesia. Timtim dipandang Barat sebagai tempat strategis yang menghemat waktu dan lokasi tersebut dapat dipakai sewaktu-waktu jika perang berkecamuk.
Namun diam-diam, CIA sudah bergerak duluan. Mereka melatih milisi lokal Papua New Guinea (PNG) dan sayagnya Indonesia tidak menyadari bahwa minggu-minggu awal perseteruan Indonesia dengan Singapura, CIA diam-diam sudah menyusup ke PNG dan melatih milisi lokal disana. Tentu saja apa yang Amerika lakukan di PNG tidak diketahui pemerintah PNG, begitu pemerintah menyadari bahwa ada yang tidak beres di negaranya, semua itu sudah terlambat, Presiden PNG dibunuh oleh orang yang tak dikenal. Dan CIA terus melatih ratusan milisi lokal dan mempersenjatai mereka untuk menyeberang ke perbatasan Papua (Indonesia). Dalam waktu dua bulan yang singkat, CIA sudah berhasil mengumpulkan 3000 milisi lokal PNG, yang nantinya disusupkan ke wilayah Papua dan digunakan untuk menarik perhatian media Internasional bahwa tentang gejolak isu kemerdekaan Papua. Namun ribuan tentara Indonesia sudah disebar ke perbatasan untuk mengantisipasi pergerakan dari perbatasan, namun sayangnya berhubung wilayah perbatasan Papua yang luas, TNI tidak dapat mengcover wilayah tersebut dan akhirnya ada celah-celah perbatasan yang terbuka.
Kesempatan ini dimanfaatkan milisi lokal PNG untuk bergerak masuk. Walaupun dideteksi segera oleh militer Indonesia, tentu saja 200 tentara yang menjaga PT. Freeport tidak sebanding dengan 670 milisi bersenjata PNG. Dari 200 Tentara Indonesia yang menjaga tambang Freeport, 167 diantara mereka tewas, sisanya berhasil melarikan diri ke hutan-hutan lebat. Banyak yang melarikan diri kemudian tertangkap, dibunuh, disiksa, bahkan kepala mereka dipenggal. Kopassus segera direspon untuk segera menanggulangi mereka, di sisi lain Indonesia sudah menyiapkan sekitar 5000 tentara yang dikirim ke wilayah tambang dan pegunungan tengah Papua yang merupakan alokasi gelombang pertama. Dimana rencananya Indonesia akan mengirimkan kembali sekitar 10.000 tentara dalam gelombang kedua. 
Kopassus segera bergerak. Misi utama mereka adalah mengambil alih Freeport dan melakukan taktik gerilya dalam menumpas milisi PNG. Kopassus bergerak bersama pasukan raider menyisir lokasi hutan-hutan belantara Papua dan menemukan kepala-kepala teman mereka yang terpenggal.
Media-media Barat kembali menuduh bahwa kopassus lah dalang dibalik semua itu. Tapi bagaimana Kopassus bisa memenggal teman mereka sendiri? Media Barat mulai merekayasa cerita tentang bagaimana teman-teman mereka membelot ke milisi PNG dan Kopassus diharuskan bukan hanya untuk membunuh mereka, tetapi memenggal mereka. Berita ini sontak menjadi santapan media internasional dan lagi-lagi PBB segera menuduh bahwa Indonesia harus segera menarik Kopassus dari Papua dan PBB segera menerapkan sanksi bagi Indonesia. Indonesia merasa PBB tidak objektif dan Indonesia dengan segera menarik diri dari keanggotaan PBB. Atas dasar itulah Amerika kemudian merespon dengan lagi-lagi menerapkan embargo terhadap Indonesia dan menyerukan kepada negara-negara NATO untuk bersiap, bahwa perang akan segera dilancarkan di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik. 
Kesempatan ini dimanfaatkan milisi lokal PNG untuk bergerak masuk. Walaupun dideteksi segera oleh militer Indonesia, tentu saja 200 tentara yang menjaga PT. Freeport tidak sebanding dengan 670 milisi bersenjata PNG. Dari 200 Tentara Indonesia yang menjaga tambang Freeport, 167 diantara mereka tewas, sisanya berhasil melarikan diri ke hutan-hutan lebat. Banyak yang melarikan diri kemudian tertangkap, dibunuh, disiksa, bahkan kepala mereka dipenggal. Kopassus segera direspon untuk segera menanggulangi mereka, di sisi lain Indonesia sudah menyiapkan sekitar 5000 tentara yang dikirim ke wilayah tambang dan pegunungan tengah Papua yang merupakan alokasi gelombang pertama. Dimana rencananya Indonesia akan mengirimkan kembali sekitar 10.000 tentara dalam gelombang kedua. 
Kopassus segera bergerak. Misi utama mereka adalah mengambil alih Freeport dan melakukan taktik gerilya dalam menumpas milisi PNG. Kopassus bergerak bersama pasukan raider menyisir lokasi hutan-hutan belantara Papua dan menemukan kepala-kepala teman mereka yang terpenggal.
Media-media Barat kembali menuduh bahwa kopassus lah dalang dibalik semua itu. Tapi bagaimana Kopassus bisa memenggal teman mereka sendiri? Media Barat mulai merekayasa cerita tentang bagaimana teman-teman mereka membelot ke milisi PNG dan Kopassus diharuskan bukan hanya untuk membunuh mereka, tetapi memenggal mereka. Berita ini sontak menjadi santapan media internasional dan lagi-lagi PBB segera menuduh bahwa Indonesia harus segera menarik Kopassus dari Papua dan PBB segera menerapkan sanksi bagi Indonesia. Indonesia merasa PBB tidak objektif dan Indonesia dengan segera menarik diri dari keanggotaan PBB. Atas dasar itulah Amerika kemudian merespon dengan lagi-lagi menerapkan embargo terhadap Indonesia dan menyerukan kepada negara-negara NATO untuk bersiap, bahwa perang akan segera dilancarkan di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik. 

Bentuk propaganda Barat terhadap pasukan elit Kopassus Indonesia jelas menjadi santapan yang "lezat" bagi Barat. Media dapat merekayasa semau mereka tanpa publik tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ini seperti halnya Mossad yang bekerjasama dengan CIA yang menyiapkan panggung sandiwara besar, yang mereka mainkan di Irak dan Suriah. Contohnya kasus penangkapan James Foley, jurnalis Amerika yang hilang di Suriah pada 2012 dan ditangkap ISIS lalu dipenggal hidup-hidup. Yang janggal adalah bagaimana ISIS dengan cerdik menyiapkan panggung studio "pemenggalan" sebagus mungkin dengan pencahayaan dan sorot kamera yang bisa disebut profesional. Tentu saja ISIS tidak mungkin dapat menguasai teknik pencahayaan, kamera, serta teknik-teknik fotografi yang dilakukan didalam studio dimana mereka memenggal James Foley tanpa bantuan dari CIA, bisa dikatakan mustahil. Operasi ini merupakan jenis operasi favorit CIA yang mayoritas warga dunia tidak mengatahui. Ciri-ciri kasus pemenggalan warga negara Barat yang dilakukan ISIS dan termasuk rekayasa atau dipakai sebagai alat propaganda Barat bisa dilihat dari tidak utuhnya video yang diupload ISIS ke media. Biasanya, ISIS memenggal kepala orang lalu meng-upload video tersebut secara utuh. Namun karena kepentingan global yang lebih luas, biasanya kasus-kasus pemenggalan tertentu (bukan pemenggalan jalanan ISIS tetapi pemenggalan ISIS di studio dengan pencahayaan yang bagus), merupakan kepentingan global ISIS dan Amerika secara lebih luas. Dan pola-pola operasi intelijen rahasia dimana CIA bekerjasama dengan ISIS bisa dilihat dari para korban yang dipaksa untuk mengenakan kaos orange. Jika anda melihat ada pola-pola pemenggalan yang video nya disensor, atau para korban yang dipenggal mengenakan kaos orange, tentu itu merupakan operasi intelijen CIA. Karena misi CIA didalam video pemenggalan tersebut bukan darah atau betapa brutalnya ISIS memenggal mereka, tetapi CIA (dalam hal ini ISIS) ingin menyampaikan pesan kepada dunia khususnya Amerika bahwa jangan macam-macam degan ISIS. Berbeda dengan kasus-kasus pemeggalan jalanan ISIS kepada para tentara Irak dimana video tanpa sensor sedikitpun dan dilakukan di jalan-jalan di kota-kota Irak dan Suriah.
Itu hanyalah contoh nyata bagaimana CIA memainkan sandiwara mereka di saat ribuan warga dunia sedang dimanjakan dengan berselfie ria, berfoya-foya, bersenang-senang dalam kebodohan dan cinta buta, serta diantara mereka hanya mementingkan materi dan duniawi. Lama-kelamaan orang-orang hedonisme kemudian "buta" akan apa yang terjadi di dunia ini. Mereka apatis terhadap perang karena tidak mengerti apa yang terjadi. Orang-orang dunia seperti domba yang diberikan rumput yang baik dari orang yang tidak dikenal, tetapi domba tersebut memakan rumput hijau tersebut tanpa bertanya darimana rumput itu berasal dan mengapa orang asing memberikan rumput kepada saya? Kemana majikan saya? Rumput dan domba itu ibaratnya mayoritas orang sekarang dimana menerima "mentah-mentah" apa yang ada dihadapan mereka tanpa berpikir dua kali darimana rumput ini berasal, dan melupakan agenda tersembunyi orang asing tersebut.
Katakanlah di tahun 2022, ISIS sudah berhasil dihancurkan oleh Rusia. Hal itulah yang membuat Amerika marah, karena Amerika berkepentingan untuk lebih lama mengembang-biakkan ISIS untuk mengacaukan situasi di Irak dan Suriah. Rusia yang sudah mencium agenda CIA di Suriah dan Irak tidak mau dibodohi dengan berita-berita mainstream begitu saja. Mereka menghancurkan apa yang harus dihancurkan, menghancurkan apa yang telah dikembangkan Amerika, tanpa adanya rekayasa apapun.

Sedangkan masalah di Pasifik, Jepang sebenarnya mulai terancam dengan kekuatan militer Indonesia. Jepang khawatir masalah Singapura-Indonesia dan Australia-Indonesia akan mulai merambat ke babak baru peperangan. Setelah berunding dengan otoritas senior AS, Jepang mulai banyak melakukan latihan militer gabungan di dekat wilayah mereka dan terkadang pesawat-pesawat mereka secara diam-diam menerobos wilayah udara di atas wilayah Laut Cina Selatan. 
Melihat gelagat buruk Jepang, Cina tidak tinggal diam. Cina yang di tahun 2020 sudah menyulap satu pulau di Laut Cina Selatan menjadi basis militer dengan menempatkan pangkalan udara mereka otomatis tidak akan terkecoh dengan permainan Jepang dan Amerika. Yang dipandang Cina akan dapat memperkeruh suasana. Cina juga melihat kesempatan untuk mendukung Indonesia, dimana di tahun 2020 Indonesia sudah dibanjiri oleh produk-produk murah-berkualitas asal Cina dan banyak investor Cina menanamkan modalnya di Indonesia. Cina harus bergerak cepat untuk dapat merebut dukungan Indonesia, dengan misi sebenarnya untuk mendukung Cina dalam mempertahankan Laut Cina Selatan yang sedang disengketakan. Para pengamat Indonesia sebenarnya sudah tahu bahwa Cina sangat berkepentingan mendapatkan dukungan dari Indonesia untuk menyeret Indonesia menjadi sekutu terdekat cina dalam ajang sengketa Laut Cina Selatan, namun berhubung Indonesia masih diisi oleh para pejabat korup dan pejabat-pejabat yang gila harta dan materi, situasi tersebut tidak secara cerdik dipandang Indonesia secara serius. Para pejabat Indonesia masih saja sibuk saling sikut-menyikut antara partai satu dengan partai lainnya, para "petugas partai" masih terlibat korupsi dan semuanya tidak melihat rakyat sebagai prioritas utama. Imbasnya, di tahun-tahun mendatang di tahun 2030-2050, Akan terjadi gap yang sangat besar antara si kaya dan si miskin. J
ika hal itu tidak diatasi saat ini, maka rakyat yang miskin mudah sekali termakan provokasi, ditambah lagi banyak dari mereka tidak berpendidikan dan pengangguran. Untuk itu Indonesia memerlukan Presiden yang hebat. Berhubung Amerika (sejak era Soekarno) tidak menginginkan Indonesia dipimpin pemimpin hebat, maka Amerika selalu mencari cara agar mendapatkan pemimpin Indonesia yang pro-Amerika agar Indonesia bisa terus "menyusu" kepada Amerika. Sedangkan Rusia yang cemburu sekaligus kasihan terhadap Indonesia, tidak dapat berbuat banyak lantaran banyak dari pejabat kita lebih sibuk mengurusi partai dan korupsi (terlepas dari masalah militer). 
Malaysia melihat bahwa hubungan Cina dan Indonesia yang semakin dekat tentu membahayakan. Dimana Malaysia juga sudah sangat menyadari potensi kekuatan militer Indonesia jika seandainya perang pun pecah. Meski banyak negara eropa Barat bergabung dengan NATO dan mendukung Amerika sepenuhnya jika perang pecah di kawasan pasifik, namun lain halnya dengan Jerman.

Sejak insiden memalukan penyadapan NSA dan CIA terhadap intelijen Jerman dimana NSA menyadap perangkat komunikasi pejabat negara Jerman, Jerman mulai skeptis terhadap Amerika dan tidak gegabah mengirimkan Tentara mereka untuk bergabung dengan NATO di wilayah Pasifik. Amerika mengetahui bahwa sejak insiden penyadapan NSA itu, hubungan AS-Jerman didepan layar adem-anyem, namun dibelakang kedua negara tidak saling mempercayai. Terlebih karena sikap egois Amerika yang menyadap, bahkan negara-negara sekutu mereka sendiri. Ketidakpercayaan Jerman terhadap sikap egoisme Amerika dibayar mahal dengan Jerman yang bergabung ke poros Kiri (Rusia dan Cina), namun tidak semua mayoritas Jerman setuju dengan hal itu. Jerman pun kembali pecah menjadi dua- Jerman Barat (mendukung AS) dan Jerman Timur (mendukung Rusia), situasi konflik di Jerman pun pecah dan konflik meletus seperti halnya konflik di Ukraina. Jerman harus segera memilih antara Amerika atau Rusia, sedangkan di sisi lain rakyat Jerman pun pecah menjadi dua dan situasi Jerman menjadi mencekam. 
Di Indonesia, Kopassus dipuja rakyat dan rakyat sepenuhnya mendukung TNI, tetapi tidak bagi media internasional. Di tengah hinaan terhadap kopassus yang dihembuskan media-media mainstream Barat tersebut, sebenarnya Amerika sedang berada diambang kebingungan. Amerika harus memilih mendukung Indonesia atau berperang dengan Indonesia? Dimana kedua pilihan itu tidak mudah. Jika Amerika mendukung Indonesia, berarti Amerika mengabaikan Singapura dan itu berarti Amerika memerangi Singapura dan Australia? Jika Amerika memerangi Indonesia, itu berarti Perang di kawasan Asia Tenggara tidak terbendung lagi dan hal itu berimbas kepada rusaknya hubungan baik antara Amerika dan Indonesia.
Faktor lainnya adalah jika Amerika memerangi Indonesia, otomatis Rusia tidak akan tinggal diam dan perang pun jadi meluas. Amerika khawatir perang pasifik akan dapat meluas menjadi perang di kawasan Eropa. Bahkan majalah TIMES menerbitkan sebuah judul berita kontroversial; Indonesia; Enemy or Ally?" (Indonesia; Musuh atau teman?). Para pakar militer di Amerika sendiri tidak menganjurkan Amerika berperang ke Indonesia, bukan masalah Amerika takut terhadap Indonesia, tetapi lebih kepada keretakan hubungan dan perang berkelanjutan di pasifik yang tentu akan membuat Rusia dan Cina bergerak mendukung Indonesia.
Hal itu dipahami betul oleh Amerika, di saat yang sama CIA sudah terlanjut menggerakkan para milisi PNG dan merebut simpatisan OPM untuk mendukung perjuangan Papua untuk lepas dari Indonesia. Namun dalam minggu-minggu selanjutnya, militer Indonesia berhasil menumpas seluruh milisi PNG yang menyeberang ke Papua serta para simpatisan OPM yang dipersenjatai milisi PNG. 
Australia tentu saja tidak senang dengan hal itu, itu berarti rencana mereka di Papua gagal. TNI sudah bersiaga penuh di perbatasan, di kota-kota di Papua, serta mencurigai para jurnalis asing yang biasanya meliput dan menuliskan tulisan sesuka hati mereka. Pergerakan pasukan sangat terlihat di pulau Jawa, dan di Jakarta, tank-tank berkeliaran dimana-mana, menarik dukungan rakyat sekaligus mengintimindasi lawan. Di Australia sendiri, Amerika telah mengirimkan 10.000 Tentara mereka, beserta pasukan khusus Navy SEAL, Ranger, USMC (Marinir), serta Green Berets yang merupakan pasukan elit terbaik Amerika. Australia kebingungan, takut jika perang pecah, Indonesia akan segera menginvasi Australia. Atas ketakutan itu, Amerika menyakinkan Australia bahwa tidak perlu takut terhadap Indonesia, dan Amerika akan membantu Australia dengan mengirimkan banyak pasukan dan pesawat tempur mereka. Pasukan khusus SAS Australia juga secara intensif terus menajamkan kemampuan perang mereka dan melakukan latihan gabungan dengan pasukan elit Amerika.

Di saat situasi yang semakin gawat itu, rakyat Indonesia segera mendukung diberlakukannya wajib militer. Presiden segera mengesahkan UU dan militer segera menerapkan wajib militer secepat mungkin (dengan asumsi bahwa di tahun 2020 pun Indonesia masih belum diberlakukan wajib militer). Anggaran Wamil segera didiskusikan dan kurang dari setahun Wamil selesai dilaksanakan. 
Rusia yang tidak ingin ketinggalan panggung perang lalu menawarkan Indonesia sebuah penawaran dengan persyaratan. Rusia ingin membantu Indonesia dengan mengerahkan pasukan darat mereka dengan balasan bahwa Indonesia diharuskan membeli pasokan gas dari Rusia, tentunya dengan penawaran harga gas yang murah dan menggiurkan, sebagai cadangan energi Indonesia jika perang berkecamuk. Indonesia kaya akan cadangan gas alamnya, namun di tahun 2020 kemungkinan 45-50% pasokan Migas masih dipasok dari luar. Untuk itulah Indonesia mengambil kesempatan untuk membeli gas murah dari Rusia, ditambah Indonesia akan mendapatkan bantuan pasukan dari Rusia. 
Di Singapura, sikap anti-Indonesia semakin tidak terbendung. Singapura mengungkit-ungkit masalah kabut asap yang berasal dari Indonesia yang dianggap menganggu sektor pariwisata Singapura. Singapura juga mengingat betapa Indonesia berani memasang nama 'Usman Harun' sebagai nama KRI. Di sisi lain, Singapura tidak menginginkan perang, melihat bahwa jika perang berlangsung, Singapura dikepung dari segala arah dan kemungkinan besar dalam beberapa minggu perang Singapura akan terkalahkan. Malaysia lalu mengatakan kepada Singapura; "Tenang saja, Kami (Malaysia) akan membantu kalian. Kalian tidak usah takut." Mendengar hal tersebut, Singapura menjadi sedikit lebih tenang. Namun masih khawatir akan besarnya kekuatan militer Indonesia. Amerika lalu memasok alat-alat militer berat dan pasukan NATO mulai dialokasikan di Singapura melalui daratan Malaysia. Kurang lebih sekitar 5000 pasukan NATO ditempatkan di Malaysia dan sewaktu-waktu akan dialokasikan ke Singapura.
Di Indonesia, Amerika berniat memecah-belah rakyat Indonesia dengan cara menghembuskan kembali isu komunisme. Isu komunisme ini sangat sensitif dan biasanya militer langsung menghujat komunis dengan citra negatif dan memerangi mereka sehingga hal itu dipandang CIA sebagai jalan masuk yang efektif untuk memperkuat kembali paham komunisme dan mempersenjatai rakyat, lalu mengadu domba sesama rakyat. Hal tersebut cukup ampuh mengingat banyak warga Indonesia mudah sekali terhasut, ditambah lagi kebencian terhadap komunisme di Indonesia semakin meguat. Sebenarnya rakyat Indonesia jangan mudah terhasut dengan komunisme. Karena di masa mendatang, komunisme dipakai sebagai jalan ampuh bagi operasi intelijen asing, sedangkan kemampuan counter-intelligence Indonesia masih berada dibawah rata-rata (kemampuan Intelijen dalam menangkal operasi intelijen asing).
Dalam 20-30 tahun mendatang apabila Indonesia masih dipimpin oleh Presiden yang tidak hebat (hebat dalam artian yang sebenarnya; Bung Karno) dan tidak cerdik dalam memainkan percaturan politik nasional dan internasional, Indonesia dipastikan akan menjadi bulan-bulanan permainan asing dalam eksplorasi hasil tambang dan mineral, serta masuknya para investor asing yang kebablasan yang menyebabkan "asing" semakin kuat di Indonesia (dalam artian nasib Indonesia ada di tangan mereka atau Indonesia banyak bergantung dari mereka). Indonesia jelas akan menjadi korban Perang Asimetris yang semakin mengkhawatirkan. Generasi muda Indonesia semakin terjebak dalam jurang seks bebas dan semakin kehilangan arah. Indonesia pun tidak kunjung menerapkan Wajib Militer, padahal wacana ini sudah diusulkan sejak lama. 
Ketika perang dengan Singapura atau dengan Australia, dalam jangka panjang Indonesia jelas akan mengalami banyak kerugian. Namun rakyat melihat bahwa perjuangan harus terus diperjuangkan walaupun kerugian yang dialami sangat besar (kerugian dari sisi anggaran perang dan keterbatasan energi). 
Menurut hemat saya, CIA sangat mudah sekali menerobos masuk menyusup melakukan operasi seperti operasi-operasi intelijen di Indonesia, dan keluar dengan tangan bersih tanpa diketahui masyarakat Indonesia. Jika Australia menginginkan Indonesia mengalami kekacauan dan ingin membuat Indonesia kehilangan Papua, otomatis CIA akan bermain di Papua bersama dengan Australia. Asumsi saya, CIA akan mempersenjatai simpatisan serta anggota OPM, atau paling tidak warga Papua yang ingin lepas dari NKRI. Sangat mudah sekali CIA mempersenjatai mereka. CIA tidak serta merta mempersenjatai, tidak sesederhana itu. CIA harus mengambil kambing hitam untuk dipersalahkan atas siapa yang mempersenjatai OPM. Nah, disinilah CIA harus cerdik memainkan "kartu AS" mereka. Menurut saya, CIA pasti mencari oknum-oknum tentara Indonesia yang "kurang loyal" dan "menginginkan uang" melebihi pengabdiannya kepada NKRI. Oknum TNI yang tidak loyal itu tentu saja sangat tergiur dengan uang dan berharap bahwa ia bisa keluar dengan tangan bersih. Oknum TNI tersebut nantinya akan dimanfaatkan CIA sebagai dalang atas masuknya ribuan senjata ke Papua.
Kemungkinan operasi semacam itu sangatlah mungkin terjadi mengingat nantinya TNI lah yang disalahkan oleh dunia internasional. Lalu, yang ada dibenak kita? Apa jawaban oknum TNI jika ditanya mengapa ia menjadi dalang pemasok utama senjata ilegal untuk mempersenjatai OPM dan melakukan makar di tanah Papua? Tentu saja jawabannya mudah, pasti akan dijawab; "Saya tidak ingin rakyat Papua menderita lebih lama lagi dan saya ingin membebaskan mereka dari belenggu praktek kolonial yang dilakukan Indonesia. Cerita diatas bukanlah fakta dan tidak melebih-lebihkan. Cerita diatas merupaka opini pribadi saya tentang bagaimana operasi intelijen nomor satu dunia bekerja, sangat mudah sekali. Untuk itu bagi TNI, yang harus dilakukan untuk menangkal operasi intelijen semacam itu bukan dengan latihan yang keras atau kemantapan disiplin atau meningkatkan operasi Kopassus, melainkan kesejahteraan dan "perhatian" yang dicurahkan kepada prajurit di lapangan, terutama bagi prajurit yang bertugas di perbatasan-perbatasan luar Indonesia. TNI harus bertindak untuk mensejahterakan mereka, membuat hunian pos yang layak bagi prajurit di perbatasan, serta meningkatkan pengamanan pulau-pulau terluar dan wilayah yang rawan disusupi senjata-senjata ilegal. 
Perkiraan saya, Rusia tidak akan mengirimkan pasukan darat ke Indonesia jika kita asumsikan bahwa Rusia ingin membantu Indonesia.

Mengingat jarak yang jauh dan perjalanan yang melelahkan, hal itu kecil kemungkinannya. Belum lagi Amerika sudah pasti akan memblokir kapal-kapal pengangkut marinir Rusia dan kapal-kapal perang Rusia untuk masuk ke wilayah Indonesia dengan menutup jalur utama Laut Cina Selatan. Basis-basis militer Amerika di Singapura, Filipina, akan semakin meningkatkan armada laut dan udara mereka, serta meningkatkan aktivitas drone siluman mereka dan menerbangkan pesawat siluman Bomber mereka yang bisa terbang sangat tinggi (Northop B-2 Spirit). Kemungkinan akibat blokade yang dilakukan AS di Laut Cina Selatan, kapal-kapal perang Rusia mau tidak mau harus terlibat perang laut disana. Cina tidak mau tinggal diam saja dan segera mengirim kapal-kapal perang mereka untuk mengusir blokade Amerika. Intensitas yang tinggi di Laut Cina Selatan membuat Cina dan Rusia masuk ke gelanggang perang dengan bertempur melawan kekuatan AS yang berada di pangkalan wilayah pasifik.
USMC dan Navy SEAL menjadi keuntungan tersendiri bagi Amerika. Di saat yang sama dimana intensitas konflik Laut Cina Selatan meningkat, tim observer dari NAVY SEAL mempelajari wilayah lepas pantai mana yang sangat mungkin untuk dijebol, wilayah pesisir laut Indonesia mana yang tidak dijaga militer. Berminggu-minggu tim demolition NAVY SEAL memperhatikan perkembangan alokasi pasukan militer Indonesia dan mereka mendapatkan banyak celah masuk bagi pendaratan pasukan reguler. Namun, Amerika mengulur-ulur waktu dan tidak terburu-buru dalam melakukan invasi ke Indonesia, yang sebenarnya menjadi kontroversi dan perbicangan hangat di rakyat Amerika sendiri. Amerika tentu tidak ingin kegagalan terulang kembali seperti konflik yang pernah terjadi di Vietnam, serta kegagalan Amerika di Irak. Indonesia pasti akan menjadi mimpi buruk bagi Amerika, dan akan menjadi kuburan-kuburan massal Tentara Amerika jika Amerika memaksakan melakukan suatu invasi melalui pesisir pantai dan melakukan pertempuran darat secara terbuka.
Belum lagi Amerika memikirkan bahaya bahwa Perang Semesta jelas akan menjadi strategi perang yang berbahaya bagi pasukan darat dan akan memakan banyak korban. Indonesia sudah pasti akan memanfaatkan strategi perang semesta dengan melibatkan rakyat dalam perjuangan Indonesia melawan invasi Amerika. Jika wajib militer selesai dirampungkan dan Total Warfare diterapkan, jutaan "sukarelawan perang" pasti menjadi suatu kekuatan bagi TNI dalam memenangkan perang. Rakyat pasti akan bersatu melawan bentuk invasi militer apapun. Meskipun tim observer NAVY SEAL sudah mempelajari celah-celah masuk melalui laut lepas, Amerika tidak ingin begitu saja masuk dan mengorbankan banyak tentara mereka seperti yang terjadi di Normandy ketika pasukan AS melakukan invasi melalui lepas pantai Perancis dalam usaha mereka mengalahkan Nazi Jerman. 
Yang terlebih dulu dilakukan Amerika untuk mengalahkan Indonesia yakni; 1. Melakukan propaganda melalui media-media mainstream. (cara ini sangat ampuh seperti yang Barat mainkan di Timor Timur) 2. mempersenjatai warga sipil Indonesia yang berwatak radikal, berpotensi melakukan terorisme, atau mereka yang anti-nasionalis. 3. Menuduh Indonesia melakukan pelanggaran HAM di Papua. 4. Menuduh Indonesia serta menjelekkan militer kita dengan membeberkan fakta bahwa TNI lah yang memasok senjata ke Papua. 5. Mendesak PBB agar memberikan sanksi kepada Indonesia dan mengecam perilaku buruk Indonesia dengan mengangkat isu HAM. Dengan hal-hal semacam itu, otomatis seiring berjalannya waktu banyak pemberontakan dimana-mana dan di waktu yang sama TNI juga harus berjuang agar Papua tidak lepas baik dari "ulah bodoh pejabat negeri ini", "desakan PBB untuk melakukan referendum" maupun dari "pemberontakan massal". Ketiga hal itu nantinya akan menjadi ancaman di masa mendatang untuk bagaimana agar Papua bisa merdeka. Selama ini Papua dibiarkan tidak merdeka (oleh Amerika) karena satu alasan; Freeport. Indonesia di era-era sebelum Jokowi "terlalu bersahabat dan terlalu baik" dengan AS dan terus melakukan kontrak pembaharuan Freeport. Di era Jokowi saja dimana Indonesia sudah berani tegas menghadapi Freepot dan mengancam mereka untuk menurut kepada Indonesia (memberlakukan larangan ekspor bahan mentah ke luar, serta Freeport diharuskan membuat smelter). 
Sangat mudah sekali bagi NATO untuk masuk mengintervensi Indonesia. Sebelum Pasukan PBB masuk, Amerika terlebih dahulu memporak-porandakan Indonesia melalui keempat hal diatas tadi. Keempat hal itu sangatlah ampuh dan lama-kelamaan situasi menjadi lebih kacau dan TNI semakin berfokus untuk menghadapi pemberontakan dan makar yang terjadi dimana-mana. Kekacauan tersebut dipelajari dengan baik oleh CIA untuk bagaimana secara cerdik agensi dapat lebih memainkan teror mereka. Terorisme pun menjadi cara lain untuk mengalahkan Indonesia. CIA memasok bahan peledak dan mencari orang-orang yang radikal yang rela melakukan operasi bom bunuh diri di lokasi-lokasi strategis. Biasanya orang-orang semacam ini sudah terlanjur radikal dan menganggap bahwa bom bunuh diri adalah suatu jalan ke Surga dan suatu solusi agar cepat bertemu dengan Bidadari.
Ini menarik, berarti orang-orang yang melakukan bom bunuh diri adalah orang-orang yang ingin segera bertemu dengan bidadari, bukan bertemu dengan Tuhan? Sebuah kekonyolan dan kesalahan persepsi tentang jihad.
Dengan Perang Asimetris dan cara-cara Amerika untuk menjatuhkan Indonesia. Besar kemungkinan kekacauan akan merebak, dan perang bukanlah solusi untuk mengalahkan kekacauan. Mungkin iya perang bisa digunakan untuk mencegah pemberontakan atau menetralisir suatu kekuatan makar di lokasi tertentu, tetapi korban jiwa akan bertambah banyak dan mata dunia selalu mengawasi perkembangan di Indonesia.  (abdu rozaqi)